Obama : Serangan udara Rusia di Suriah "memperkuat ISIS"

Serangan udara Rusia

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Serangan udara Rusia disebutkan menyebabkan penentang Assad bersembunyi.

Presiden AS Barack Obama mengatakan pemboman yang dilakukan Rusia di Suriah untuk mendukung Presiden Bashar al-Assad menyebabkan oposisi moderat 'bersembunyi' dan "hanya memperkuat" kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam ISIS.

Obama mengatakan dia menolak pernyataan Rusia yang menyebut seluruh penentang kepemimpinan Assad "yang brutal" merupakan teroris.

Moskow bersikeras serangan udara yang dilakukannya - <link type="page"><caption> yang dimulai pada Rabu lalu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150930_dunia_suriah_rusia.shtml" platform="highweb"/></link>- menargetkan ISIS.

Tetapi, oposisi Suriah dan pihak lainnya memperkirakan pemberontak non-ISIS mengalami kehancuran akibat serangan Rusia.

Rusia mengatakan serangan udara yang dilancarkannya mengenai pusat omando ISIS, gudang senjata dan kendaraan militer. Dengan target wilayah kekuasaan ISIS seperti Raqqa, tetapi juga provinsi yang tidak dikuasai ISIS Aleppo, Hama dan Idlib.

Presiden AS Barack Obama

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Presiden AS Barack Obama mengatakan dari perspektif Rusia, mereka semuanya teroris.

"Masalah di Suriah adalah Assad dan tindakan brutalnya terhadap warga Suriah, dan itu juga harus dihentikan," kata Obama dalam konferensi pers di Gedung Putih.

"Kami tidak akan bekerja sama dengan Rusia untuk menghancurkan semua orang yang muak dan lelah dengan Assad."

Dia menambahkan: "Dari perspektif mereka (Rusia), mereka semuanya teroris. Dan itu merupakan resep untuk bencana."

Organisasi HAM Suriah yang berbasis di Inggris Syrian Observatory for Human Rights mengatakan seranga udara terakhir Rusia mengenai sebuah pos komando dekat dengan "ibukota" ISIS Raqqa, menewaskan 12 pejuang ISIS.

Aktivis dan penduduk di sana mengatakan ISIS membatalkan salat Jumat dan mengosongkan masjid di seluruh kota di tengah kekhawatiran adanya serangan udara susulan.