Dua wartawan al-Jazeera dibebaskan di Mesir

Baher Mohamed dan Mohammed Fahmy menegaskan, mereka hanya melakukan tugas kewartawanan

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Baher Mohamed dan Mohammed Fahmy menegaskan, mereka hanya melakukan tugas kewartawanan

Dua wartawan Al Jazeera yang dipenjara di Mesir karena dituding menayangkan berita bohong, dibebaskan setelah menerima pengampunan dari Presiden Abdul Fattah al-Sisi.

Mohammed Fahmy, warga Kanada, dan Baher Mohamed, warga Mesir, merupakan bagian dari 100 orang yang mendapat pengampunan.

Media pemerintah menyebut bahwa ada seorang lagi yang mendapat pengampunan terkait kasus itu. Namun belum jelas apakah yang dimaksud adalah wartawan warga Australia, <link type="page"><caption> Peter Greste, yang dideportasi Februari lalu.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/02/150201_mesir_greste_dibebaskan" platform="highweb"/></link>

Ketiga orang itu, dalam pengadilan ulang bulan lalu, dijatuhi hukuman penjara tiga tahun.

Fahmy dan pengacaranya, Amal Clooney

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Fahmy dan pengacaranya, Amal Clooney

Jaksa mendakwa mereka terlah berkomplot dengan Ikhwanul Muslimin atau Persaudaraan Islam, kelompok yang sekarang dilarang di Mesir, menyusul tergulingnya presiden Mohammed Morsi oleh militer tahun 2013.

Para wartawan menyangkal semua dakwaan dan mengatakan bahwa mereka sekadar melaporkan kejadian. Para pengamat juga menyebut, perkara ini lebih bermotif politik.

Dalam pernyataannya, <link type="page"><caption> kantor kepresidenan menyebut</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150831_dunia_aljazeera_clooney" platform="highweb"/></link>, Fahmy dan Mohamed adalah bagian dari 100 orang muda "yang sudah mendapat putusan akhir dari pengadilan, divonis unutuk perkara terkait serangan terhadap polisi dan pelanggaran terhadap undang-undang unjuk rasa."

<link type="page"><caption> Ketiga jurnalis ditangkap bulan Desember 2013</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2013/12/131230_aljazeera_mesir" platform="highweb"/></link>, tatkala sedang berada di sebuah hotel di Kairo setelah kantor mereka digrebek polisi.