Krisis pengungsi, perbatasan tiga negara diperketat

Sumber gambar, AP
Jerman, Austria dan Republik Ceko memperketat pengawasan perbatasan menyusul banjirnya pengungsi dan pendatang di kota Muenchen serta kota-kota lain.
Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere mengatakan pengawasan di perbatasan wilayah Jerman dengan Austria diterapkan sementara untuk mengatasi membanjirnya pengungsi dan imigran.
"Tujuan langkah ini adalah untuk membatasi gelombang masuknya orang ke Jerman saat ini dan untuk memulihkan prosedur yang tertib ketika orang masuk ke Jerman," kata Thomas de Maiziere dalam jumpa pers di Berlin, Minggu malam (13/09).
Ditambahkan pula, pengungsi "tidak bisa memilih" negara tujuan dan menyerukan agar negara-negara lain anggota Uni Eropa berbuat lebih banyak.

Sumber gambar, AFP
Kebijakan ditempuh setelah <link type="page"><caption> lebih dari 13.000 imigran dan pengungsi masuk ke Muenchen</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150913_dunia_jerman_pengungsi" platform="highweb"/></link> saja pada Sabtu (12/09). Selain itu, terdapat sekitar 1.400 orang yang tiba hari Minggu (13/09). Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang tiba pekan-pekan sebelumnya.
Langkah Jerman bertentangan dengan zona Schengen, yang memungkinkan pergerakan bebas antarbanyak negara Eropa. Namun kesepakatan itu memang memungkinkan pembatalan sementara.
Sementara itu, pihak berwenang yang menangani layanan kereta Austria mengumumkan kereta dengan tujuan Jerman dan sebaliknya dibatalkan selama 12 jam sampai Senin pagi (14/09).

Republik Ceko, yang selama ini dijadikan rute alternatif menuju Jerman, telah menyatakan akan meningkatkan pengawasan di perbatasannya dengan Austria.
Menurut Menteri Dalam Negeri Milan Chovanecsaid, langkah-langkah lain bisa saja diberlakukan tergantung pada jumlah pengungsi yang hendak masuk ke Republik Ceko.
Eropa bagian barat sedang dilanda <link type="page"><caption> gelombang pengungsi dan imigran</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/lapsus_eropa_pengungsi" platform="highweb"/></link>, sebagian besar dari Suriah tetapi ada pula yang berasal dari Afghanistan, Eritrea dan negara-negara lain untuk melarikan dari peperangan dan kemiskinan.









