Hillary Clinton minta maaf soal email pribadi

Awalnya Clinton tak menampakan penyesalan, bahkan terkadang berkelakar soal email-email itu.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Awalnya Clinton tak menampakan penyesalan, bahkan terkadang berkelakar soal email-email itu.

Hillary Clinton menyampaikan permintaan maaf karena telah menggunakan akun email pribadinya untuk keperluan dinas saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, antara tahun 2009-2013.

Di laman Facebook miliknya, ia menulis "sorry" dan bahwa ia telah berbuat "kesalahan."

Clinton mendapat kecaman dan cercaan terkait penggunaan email pribadi itu, seiring upayanya mendapatkan nominasi calon presiden AS dari Partai Demokrat.

Para pengecamnya menyebut akun dan jaringan komputer pribadinya tidak aman, bertentangan dengan kebjiakan pemerintah yang dirancang untuk melindunginya dari kemungkinan membuat kekeliruan.

Clinton menyatakan pewrminataan maaf untuk pertama kalinya lewat sebuah wawancara, Selsa (8/9).

Para analis menganggap, kasus ini membuat popularitas Clinton melorot

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Para analis menganggap, kasus ini membuat popularitas Clinton melorot

"Itu merupakan hal yang salah. Saya minta maaf. Saya bertanggung jawab soal itu dan mencoba untuk setransparan yang saya bisa," katanya kepada ABC news.

Di laman Facebook Clinton menulis: "Ya, saya mestinya menggunakan dua alamat email, yang satu untuk urusan pribadi, yang satunya lagi untuk pekerjaan saya di Kementerian Luar Negeri. Keliru bahwa saya tak melakukannya. Saya minta maaf tentang hal itu dan saya sepenuhnya mengaku salah," tulisnya.

Tak ada yang rahasia

Hillary Clinton tetap membantah tudingan bahwa ia telah melanggar hukum atau aturan pemerintah. Dituliskannya, "Tak satu pun email yang saya kirim waktu itu yang digolongkan rahasia."

Para analis politik - termasuk sesama Demokrat - berpendapat kasus ini menjadi batu sandungan bagi kampanye Clinton, khususnya karena respons Clinton yang tak menunjukkan penyesalan dan bahkan terkadang justru nerkelakar soal itu.

Kasus ini juga telah menjadi isu utama dalam pemilihan presiden. Jajak pendapat menunjukkan peningkatan jumlah pemilih yang menganggapnya "tidak dapat dipercaya" terkait kontroversi email ini.