Alan Kurdi, bocah Suriah yang meninggal tenggelam telah dimakamkan

Sang ayah, Abdullah Kurdi, terlibat langsung dalam proses pemakaman dua anak dan istrinya di wilayah kota Kobane, Suriah, yang dikuasai oleh kelompok Kurdi.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Sang ayah, Abdullah Kurdi, terlibat langsung dalam proses pemakaman dua anak dan istrinya di wilayah kota Kobane, Suriah, yang dikuasai oleh kelompok Kurdi.

Jenazah bocah Suriah, Alan Kurdi dan keluarganya yang meninggal dunia akibat kapal yang ditumpanginya tenggelam di pantai Turki telah dimakamkan di Kobane, Suriah.

Sang ayah, <link type="page"><caption> Abdullah Kurdi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150904_dunia_alan_turki" platform="highweb"/></link>, terlibat langsung dalam proses pemakaman dua anak dan istrinya di wilayah kota Kobane, Suriah, yang dikuasai oleh kelompok Kurdi.

Dalam sambutan singkatnya, Abdullah Kurdi dengan agak terisak berkata: "Saya tidak lagi mempunyai masa depan. Masa depan saya telah sirna."

Alan Kurdi, yang berusia tiga tahun, kakaknya Galip (berusia lima tahun) serta ibunya Rehan meninggal dunia saat kapal yang ditumpangi para migran asal Suriah tenggelam di dekat Pulau Kos, Yunani.

Foto jasad Alan Kurdi, dalam kondisi meninggal dan tergeletak di pinggir pantai, menjadi trending topic di seluruh dunia dan memicu kemarahan masyarakat internasional.

Sumber gambar, AP I DHA

Keterangan gambar, Foto jasad Alan Kurdi, dalam kondisi meninggal dan tergeletak di pinggir pantai, menjadi trending topic di seluruh dunia dan memicu kemarahan masyarakat internasional.

Menurut petugas penjaga pantai Turki, sekelompok migran meninggalkan Turki melalui Semenanjung Bodrum menuju Pulau Kos di Yunani pada Rabu dini hari (02/09), namun dua perahu yang mereka tumpangi karam tidak lama kemudian.

Dua belas jenazah, termasuk lima anak-anak, ditemukan oleh aparat keamanan Turki.

Kemarahan internasional

Foto jasad Alan Kurdi, <link type="page"><caption> dalam kondisi meninggal dan tergeletak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150902_dunia_foto_suriah" platform="highweb"/></link> di pinggir pantai, menjadi <italic>trending topic</italic> di seluruh dunia dan memicu kemarahan masyarakat internasional.

Kemarahan itu kemudian menjelma menjadi semacam desakan agar <link type="page"><caption> Uni Eropa melakukan tindakan darurat </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150903_dunia_inggris_migran" platform="highweb"/></link>untuk menampung para migran.

Mendiang Alan Kurdi. Dalam sambutan singkatnya, Abdullah Kurdi dengan agak terisak berkata: "Saya tidak lagi mempunyai masa depan. Masa depan saya telah sirna."

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Mendiang Alan Kurdi. Dalam sambutan singkatnya, Abdullah Kurdi dengan agak terisak berkata: "Saya tidak lagi mempunyai masa depan. Masa depan saya telah sirna."

Para pejabat Turki mengatakan, konvoi kendaraan yang membawa jenazah Alan Kurdi dan keluarganya menyeberang ke kota Kobane, Suriah, di dekat perbatasan Turki.

Setelah insiden kematian Alan beredar luas, polisi Turki menahan empat tersangka penyelundup manusia yang diduga menyelundupkan keluarga Kurdi dan puluhan orang lainnya.

Keempat tersangka merupakan warga negara Suriah, berusia antara 30 sampai 41 tahun, menurut kantor berita Turki, Dogan.

Ribuan orang pengungsi dan pendatang dari Timur Tengah dan Afrika tewas pada tahun ini setelah berusaha mencapai benua Eropa melalui laut.