Presiden Suriah 'yakin' dengan sokongan Rusia dan Iran

Sumber gambar, EPA
Presiden Suriah Bashar al-Assad mengaku yakin akan terus mendapat sokongan dari dua sekutunya, Iran dan Rusia.
Dalam wawancara dengan Al-Manar, stasun televisi Libanon yang dikelola Hezbollah, Al-Assad mengatakan yakin Rusia dan Iran tidak pernah menelantarkan sahabat-sahabatnya.
Komentar itu dikemukakan Al-Assad di tengah spekulasi bahwa rezimnya bisa dilengserkan demi mengakhiri konflik Suriah yang telah berlangsung selama empat tahun.
Spekulasi itu muncul seiring munculnya usulan dari Utusan PBB untuk krisis Suriah, Staffan de Mistura, untuk menggelar pertemuan konsultasi antara pihak-pihak bertikai sehingga perundingan damai bisa dimulai.
Namun, Al-Assad mengatakan utusan PBB tersebut bias dan tiada terobosan perundingan yang tampak. Menurutnya, solusi satu-satunya adalah jika dunia luar berhenti menyokong ‘terorisme’, istilah yang dia pakai untuk merujuk aktivis oposisi sekaligus kelompok milisi jihad.

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, AP
Koresponden BBC di Beirut, Libanon, Jim Muir, mengatakan sikap Al-Assad tetap tidak berubah meskipun situasi sulit yang dihadapi pasukannya di medan tempur.
Jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik Suriah sejauh ini menemui jalan buntu. Iran dan Rusia berkeras bahwa Al-Assad harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi politik.
Di sisi lain, Presiden Prancis Francois Hollande menyatakan ‘netralisasi’ pemimpin Suriah krusial untuk mengakhiri konflik.
“Kita harus mengurangi pengaruh terorisme tanpa mempertahankan Assad. Kedua hal itu saling terikat,” ujar Hollande.
Konflik Suriah dimulai dengan rangkaian demonstrasi anti-pemerintah pada 2011. Demonstrasi itu kemudian berubah menjadi konflik berdarah yang menewaskan lebih dari 250.000 jiwa.












