Australia terus upayakan Mahkamah MH17

Sumber gambar, AFP
Australia mengaku bersemangat oleh dukungan Dewan Keamanan PBB untuk membentuk pengadilan pidana internasional mengenai kecelakaan MH17 tahun lalu, ungkap Menteri Luar Negeri Julie Bishop.
Bishop baru telah kembali bertolak ke New York untuk melobi dibentuknya mahkamah internasional untuk perkara jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17.
Pesawat<link type="page"><caption> Malaysian Airlines</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/07/150717_dunia_mh17" platform="highweb"/></link> itu jatuh dalam perjalanan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur, menewaskan semua penumpangnya.
Banyak pihak mengatakan terdapat bukti pesawat dihantam rudal yang diluncurkan oleh pemberontak pro-Rusia.
Australia telah bergabung dengan negara-negara lain yang terlibat dalam penyelidikan gabungan kecelakaan 17 Juli 2014 itu termasuk <link type="page"><caption> Malaysia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/07/150703_dunia_malaysia_mh17_pbb" platform="highweb"/></link>, Belgia, Belanda dan Ukraina, untuk mendorong pengadilan dan penuntutan terhadap mereka yang bertanggung jawab.
Rusia diperkirakan akan memveto usulan itu setelah Presiden <link type="page"><caption> Vladimir Putin awal bulan ini menyatakannya sebagai tindakan "prematur</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/07/150716_dunia_mh17_putin" platform="highweb"/></link>".
Bishop mengatakan kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC) walaupun ditentang oleh Rusia, dia senang menerima dukungan Dewan Keamanan PBB.

Sumber gambar, EPA
“Mereka menyadari bahwa kita mencari keadilan bagi keluarga korban pesawat Malaysia Airlines MH17,” katanya dari New York.
Bishop dijadwalkan berbicara di Dewan Keamanan pada Rabu (29/7) ini di New York. Pemungutan suara Dewan Keamanan PBB akan dilakukan tidak lama setelah itu.
Sementara itu, laporan final penyebab kecelakaan itu oleh <link type="page"><caption> lembaga keselamatan penerbangan Belanda</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/04/150416_mh17" platform="highweb"/></link> dijadwalkan terbit pada Oktober mendatang.












