Mengupas strategi militer ISIS

Sumber gambar, AFP GETTY
- Penulis, Bill Law
- Peranan, Analis Timur Tengah
Setahun setelah deklarasi pembentukan kekhalifahan ISIS oleh Abu Bakr al-Baghdadi, kelompok tersebut masih kuat, walaupun sudah diserang berulang kali oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Tujuan <link type="page"><caption> serangan-serangan udara yang dilancarkan ke Irak dan Suriah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150612_dunia_isis_militer" platform="highweb"/></link> sejak Agustus 2014 lalu, menurut Presiden AS Barack Obama, adalah untuk “melumpuhkan dan kemudian menghancurkan” ISIS.
Nyatanya, ISIS malah menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dan tampil lebih kuat.
Sebuah kajian yang mengupas strategi militer ISIS mencoba menjelaskan alasan mengapa <link type="page"><caption> kelompok itu begitu kokoh</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150602_dunia_irak_isis" platform="highweb"/></link>.
Tiga lingkaran
Inti strategi militer ISIS adalah konsep “Bertahan dan Berkembang”, seperti yang dipaparkan dalam majalah propaganda mereka, Dabiq, edisi November 2014.
Dengan mempraktikkan teori itu, <link type="page"><caption> ISIS dapat bertahan di lokasi yang dianggap menjadi markas mereka</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150609_dunia_isis_mosul" platform="highweb"/></link>, Raqqa di Suriah dan Mosul di Irak.
Bulan lalu, lokasi pertahanan ISIS melebar ke <link type="page"><caption> Ramadi, ibu kota Provinsi Anbar di Irak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150524_dunia_ramadi_isis" platform="highweb"/></link>, serta <link type="page"><caption> Kota Palmyra di Suriah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150521_dunia_isis_palmyra" platform="highweb"/></link>.
Untuk bisa berkembang lebih jauh, ISIS telah mengotakkan dunia menjadi tiga bagian.

The Institute for the Study of War (ISW), sebuah lembaga intelijen asal Washington DC, mengistilahkan pengotakan itu dengan “tiga lingkaran geografis”.
Lingkaran terdalam ialah di Irak dan al-Sham (Suriah), lingkaran kedua ialah Timur Tengah dan Afrika Utara, dan lingkaran terluar ialah Eropa, Asia dan Amerika Serikat.
Setiap lingkaran harus dikuasai menggunakan tiga strategi militer, yakni perang konvensional, perang gerilya, dan serangan teror.
Ketiganya telah digunakan secara efektif di lingkaran terdalam.
Di lingkaran kedua, dampak perang konvensional dan gerilya sudah mulai dirasakan, Contohnya, sejumlah serangan terhadap militer dan kepolisian di Sinai, Mesir, dan penguasaan beberapa kota di Libia, termasuk bekas kantung kekuatan Moamar Khadafi di Sirte.
Sementara itu, para <link type="page"><caption> “lone wolves” atau pelaku tunggal telah membawa taktik teror ke lingkaran terluar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150505_isis_dallas" platform="highweb"/></link>, sebagaimana tampak dalam serangan-serangan di Australia, AS dan Kanada.

Sumber gambar, AP
Taktik tempur
Selain memiliki strategi global, ISIS juga menerapkan taktik tempur yang spesifik.
Di Irak dan Suriah, taktik penggunaan bom mobil atau Vehicle Borne Improvised Explosive Devices (VBIEDS) terbukti menjadi senjata perang yang sukses. Bom semacam itu dipasang di mobil Hummer AS yang dirampas dari militer Irak.
Wilayah-wilayah perkotaan yang lebih kecil diserbu menggunakan “manuver jepit” dengan menempatkan bom mobil di kedua sisinya, disusul militan-militan yang menggunakan rompi bunuh diri lalu diikuti prajurit dan kendaraan-kendaraan yang dilengkapi persenjataan.
Kota-kota besar dikuasai dengan metode gabungan antara infiltrasi, khususnya melalui komunitas Sunni yang terpinggirkan di Irak, dan "Strategi Belt" atau sabuk.
Dengan strategi itu awalnya kota-kota dan pedesaan yang di sekitar pusat kota besar dikuasai terlebih dahulu, dan menutup jalanan.
Serbuan makin digencarkan melalui anggota-anggota ISIS yang bergerak maju dan mulai memasuki pusat kota layaknya sabuk.

Sumber gambar, AFP
ISIS menggunakan wilayah gurun pasir yang luas di Suriah dan Irak, menarik diri ke dalamnya untuk kemudian muncul dari sana juga sesuka mereka. Taktik itu memerlukan mobilitas tingkat tinggi, organisasi yang efisien, serta pasokan amunisi dan air yang banyak.
Walaupun serangan udara telah menghambat pergerakan di padang, ISIS mengatasi itu dengan memecah pasukan menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil dan sulit terdeteksi.
Dengan itu, jumlah anggota ISIS yang sedikit bisa menghadapi pasukan dalam jumlah besar sementara anggota ISIS lainnya menyerang sebuah kota, pangkalan militer atau lokasi strategis lainnya seperti sebuah bendungan atau kilang minyak.
Berdasarkan penjabaran tersebut, tampak jelas bahwa ISIS merupakan pasukan tempur yang kuat, sangat termotivasi dan terdisiplin. Selain itu mereka adalah organisasi dengan rencana yang jelas, tersusun secara sistematis dan memiliki strategi perang yang terbukti berhasil.
Bandingkan dengan pengakuan Obama yang mengatakan setelah satu tahun berperang “kami masih belum memilki strategi untuk mengalahkan ISIS”.











