Hadapi ISIS, Irak minta bantuan relawan

Pasukan Irak dan berbagai suku, termasuk sekitar 3.000 anggota milisi Syiah, dilaporkan bersiap melancarkan serangan untuk mengambil alih Kota Ramadi.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Pasukan Irak dan berbagai suku, termasuk sekitar 3.000 anggota milisi Syiah, dilaporkan bersiap melancarkan serangan untuk mengambil alih Kota Ramadi.

Pemerintah Irak meminta kesediaan relawan untuk memerangi kelompok milisi ISIS dan mengambil alih kembali Kota Ramadi.

Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan rakyat Irak perlu “bersatu” demi menghadapi ISIS. Untuk itu, dia berjanji merekrut dan mempersenjatai pejuang dari berbagai suku.

Sekitar 3.000 anggota milisi Syiah dilaporkan bersiaga di kamp militer Habbaniyah, sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Ramadi. Mereka disebut siap melancarkan gempuran ke Kota Ramadi.

<link type="page"><caption> Kota Ramadi jatuh sepenuhnya ke tangan ISIS</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150518_dunia_ramadi_jatuh" platform="highweb"/></link> pada Minggu (17/05). Pada saat bersamaan, sebagian besar tentara telah ditarik mundur ke sebuah pangkalan militer di kota Khalidiya, arah timur dari Ramadi.

Tentara pemerintah kehabisan amunisi dan tak mampu membendung <link type="page"><caption> serangan besar-besaran ISIS</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150519_dunia_ramadi_isis" platform="highweb"/></link>, kata seorang perwira militer Irak kepada BBC.

Sementara itu, dewan keamanan nasional AS mengatakan sedang mempertimbangkan "cara terbaik untuk mendukung pasukan darat lokal".

Juru bicara Alistair Baskey mengatakan kepada kantor berita AFP beberapa tindakan yang dipertimbangkan termasuk “mempercepat pelatihan dan perlengkapan suku-suku lokal dan mendukung operasi pengambilan kembali Ramadi yang dipimpin oleh Irak”.

Kota Ramadi jatuh sepenuhnya ke tangan ISIS pada Minggu (17/05). Pada saat bersamaan, sebagian besar tentara kehabisan amunisi dan tak mampu membendung serangan besar-besaran ISIS.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Kota Ramadi jatuh sepenuhnya ke tangan ISIS pada Minggu (17/05). Pada saat bersamaan, sebagian besar tentara kehabisan amunisi dan tak mampu membendung serangan besar-besaran ISIS.

Pukulan

Hilangnya kekuasaan pemerintah di Ramadi, ibu kota Provinsi Anbar, merupakan pukulan bagi pemerintah Irak dan strategi AS di wilayah setempat, kata wartawan BBC Jim Muir di Beirut.

Merebut kembali wilayah itu merupakan tantangan besar bagi pemerintah Irak, yang telah meminta bantuan kepada milisi Syiah. Risiko itu terbilang besar mengingat kawasan Ramadi ialah wilayah Sunni.

PBB mengatakan sekitar 25.000 orang telah melarikan diri dari daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Sejumlah saksi mata mengatakan jalanan kota sepi, namun beberapa toko dipaksa buka oleh anggota ISIS.

Mereka juga mendatangi setiap rumah untuk mencari loyalis pemerintah dan melemparkan mayat-mayat di sungai Efrat, kata warga.

Ribuan warga sipil berbondong-bondong mengungsi dari Kota Ramadi setelah kota itu dikuasai ISIS.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Ribuan warga sipil berbondong-bondong mengungsi dari Kota Ramadi setelah kota itu dikuasai ISIS.

Sejarah kelam provinsi Anbar

  • Anbar ialah provinsi terbesar Irak yang dihuni penduduk mayoritas kaum Sunni. Kawasan itu diduduki militer AS pada 2003
  • Warga setempat tidak menyambut kehadiran militer AS dengan baik dan pertempuran sering terjadi antara gerilyawan Sunni dan militer AS.
  • Pertempuran terburuk terjadi ketika militer AS berupaya merebut Kota Fallujah pada 2004. Ribuan orang tewas kala itu.
  • Pertempuran masih berlangsung dalam kurun 2005 dan 2006 seiring tenarnya kelompok Al-Qaeda di Iraq (AQI)
  • AS mengklaim kemenangan pada 2007, namun kelompok AQI masih menempati wilayah itu. Pada 2011, AQI kembali menyerang ketika militer AS ditarik
  • Kelompok milisi ISIS gerilyawan Sunni lainnya menguasai provinsi itu sekarang