Ada pengungsi yang 'dibunuh' karena rebutan makanan

Sumber gambar, AFP
Para pendatang yang diselamatkan dari kapal yang terdampar di lepas pantai Indonesia mengatakan kepada BBC sekitar 100 orang tewas karena berkelahi memperebutkan sisa makanan yang tersedia.
Tiga korban yang selamat secara terpisah mengatakan ada yang ditikam, digantung, atau dilempar ke laut.
Bagaimanapun wartawan BBC, Martien Patience, melaporkan kesaksian mereka tidak bisa dikukuhkan.
<link type="page"><caption> Sekitar 700 pendatang dari Myanmar dan Bangladesh kini ditampung di Provinsi Aceh</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150515_rohingya_langsa_thailand" platform="highweb"/></link> dan sedang diproses oleh pihak berwenang Indonesia.
Sebagian besar dari mereka menderita kekurangan pangan dan dehidrasi.

Sumber gambar, Reuters
Organisasi Migrasi Internasional, IOM, memperkirakan masih ada ribuan pendatang dari Myanman dan Bangladesh yang terapung-apung di laut karena <link type="page"><caption> ditolak untuk mendarat oleh Indonesia, Thailand, dan Malaysia.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150515_dunia_rohingya_pbb" platform="highweb"/></link>
Operasi yang dilancarkan pihak berwenang Thailand membuat para penyelundup manusia tidak berani mendaratkan para pendatang tersebut dan meninggalkan mereka terapung-apung di laut dengan mesin kapal dimatikan.
Pemerintah Myanmar menegaskan tidak bertanggung jawab atas krisis pengungsi ini dan kemungkinan tidak akan datang dalam pertemuan puncak ASEAN untuk membahas krisis tersebut.
Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman, mengharapkan krisis para pendatang dari Bangladesh dan Myanmar ini bisa diselesaikan oleh kawasan regional sebelum dibawa ke tingkat internasional.
"Kita harus melihat kepentingan kita sendiri, masalah sosial dan keamanan kita," jelasnya.
Malaysia tahun ini ditunjuk sebagai pemimpin ASEAN.











