Al Azhar Kairo akan memperluas ajaran secara global

Sumber gambar, Getty
Lembaga pendidikan Islam yang terkenal di Mesir, Al Azhar, akan memperluas upaya pengajaran toleransi Islam secara global.
Al Azhar -yang berawal dari masjid di Kairo dan memiliki universitas- merupakan salah satu lembaga terkenal di dunia yang mengajarkan studi-studi Islam, antara lain Syariah Islam.
Rencana untuk 'globalisasi' itu diumumkan Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry, saat menghadiri konferensi memerangi ekstrimisme di Washington, Amerika Serikat.
Shoukry mengatakan bahwa tindakan kelompok militan merupakan penghinaan atas Islam.

Sumber gambar, AP
"Pada akhrinya tanggung jawab untuk menghadapi ideologi kekerasan berada di kalangan umat Islam sendiri," tuturnya.
Mesir melancarkan serangan udara atas posisi-posisi kelompok militan di Libia setelah <link type="page"><caption> 21 umat Kristen Koptik asal Mesir dipancung oleh kelompok militan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/02/150215_isis_pembunuhan" platform="highweb"/></link> yang mengaku memiliki hubungan dengan Negara Islam atau ISIS tersebut.
Sementara itu Menlu Amerika Serikat, John Kerry, mengingatkan kelompok-kelompok ekstrimis Islam memiliki strategi jangka panjang.

Sumber gambar, AP
Oleh karena itu, tambahnya, pemerintah yang ingin memerangi terorisme harus berpikir lebih meluas tentang bagaimana menghadapi ideologi radikal dan menghentikan teroris mengeksploitasi keluhan-keluhan orang.
"Anda harus melakukan semua hal. Anda harus menarik orang-orang itu dari medan perang, tempat mereka berada sekarang," kata Kerry menjelaskan.
Dia juga menyerukan kerja sama antar negara untuk menyusun sebuah rencana guna mencegah ideologi kekerasan berkembang.
Saat membuat konferensi Rabu (18/02), <link type="page"><caption> Presiden Barack Obama menegaskan bahwa 'perang bukan dengan Islam</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/02/150218_obama_ekstremisme" platform="highweb"/></link> namun dengan teroris yang menyelewengkan Islam'.
Perwakilan dari lebih dari 60 negara hadir dalam konferensi yang digelar menyusul adanya serangkaian serangan Islamis di Denmark, Prancis dan Australia.











