Hujan warnai perayaan Imlek

Sumber gambar, bbc
- Penulis, Ging Ginanjar
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Perayaan tahun baru Imlek 2566 di Jakarta, diwarnai hujan sejak semalam sebelumnya. Tapi warga tetap berdatangan untuk berdoa di Kelenteng tertua di Jakarta di Petak Sembilan, Glodok, kendati keramaiannya jauh berkurang dibanding tahun lalu.
Wawan sempat berdebar-debar tatkala hujan mengguyur deras Jakarta dan sekitarnya malam pergantian tahun baru Cina, menjelang tengah malam, Rabu (18/2/2015). Genangan mulai bermunculan di berbagai tempat, juga di Kelenteng Cin Te Yen, alias Kelenteng Petak Sembilan, kelenteng tertua di Jakarta, yang terletak di kawasan Glodok.
"Air sempat masuk, ya barang sepuluh sentimeter sih ada," kata Wawan, penduduk Kapuk, yang setiap tahun membantu perayaan Imlek di Kelenteng yang juga merangkap rumah ibadat Budha, Vihara Dharma Bumi itu.
"Ya orang pada datang juga, tapi nggak sebanyak tahun lalu," kata Wawan pula, sembariu membereskan hio-hio yang sudah terbakar habis.

Sumber gambar, ging
Hujan juga turun di hari pertama Tahun Kambing 2566.
"Tak apalah, mungkin ini pertanda tahun ini akan penuh rejeki melimpah," kata A Tin, seorang perempuan penduduk Kedoya, yang datang bersembahyang bersama suaminya, Jimmy.
Jimmy menambahkan, sisi positifnya adalah, mereka bisa bersembahyang tanpa terlalu mesti berdesakan.
Suami isteri Jimmy dan A Tin, setiap tahun baru Imlek datang ke kelenteng ini.
"Kadang malamnya, kadang hari tahun barunya, tergantung suasana hati saja," tutur A Tin.
Sebagaimana pengunjung lain, mereka menyalakan hio, lilin, dan menuangkan minyak. Terkadang membawa bunga juga.

Tapi seringnya, mereka membeli peralatan persembahan itu di kelenteng. "Sekalian menyumbang untuk pengelolaan kelenteng," kata Jimmy.
Di berbagai ruangan di Kelenteng Petak Sembilan ini, warga Cina melakukan berbagai jenis persembahyangan dan persembahan.
Tak semuanya memeluk kepercayaan Kong Hu Tju. Pasangan Jimmy dan A Tin, misalnya, adalah pemeluk Budha. Sementara Yen-Yen, seorang perempuan muda 20an tahun, adalah seorang pemeluk Katolik. Ia datang bersama ibunya yang Kong Hu Tju.
"Kan ini tahun baru untuk semua orang Cina, bukan cuma Kong Hu Tju, Kata Yen-Yen.
Yen-Yen betul: bahkan banyak juga warga non Cina yang datang, kendati bukan untuk bersembahyang. Melainkan untuk berkunjung, menonton, turut menikmati suasana yang khas, dan tentu berfoto-foto.

Sumber gambar, ging
Yen Yen sendiri, bersama ibunya, kali ini ia juga mempersiapkan banyak ang pao --amplop merah, yang diisi dengan beberapa lembar uang. Sebagian diberikan kepada para petugas yang sibuk menjaga kelancaran perayaan Imlek di vihara itu. Sebagian lagi diberikan kepada sejumlah warga miskin, yang sejak semalam sudah memadati pelataran kelenteng. Mereka menyiapkan Rp1 juta, yang dipecah-pecah dalam lembaran Rp5.000, dimasukkan dalam amplop merah yang mereka bawa dari rumah.
Ang pao adalah tradisi khas saat Imlek, memberikan uang kepada keluarga yang lebih muda atau belum menikah, serta kepada yang kurang mampu.
Terdapat beberapa ruangan persembahan dengan dewa dan dewi yang berbeda-beda di Kelenteng Petak Sembilan.
Namun semuanya memunculkan suasana yang sama: asap hio, minyak, lilin, bunga, dan minyak. Juga berbagai jenis buah-buahan dan penganan persembahan. Khususnya kue khas Imlek: kue keranjang.
Semuanya memiliki maknanya sendiri-sendiri, namun berujung pada harapan yang sama: kehidupan yang lebih baik, rejeki yang lebih lancar dan melimpah.












