Obama hendak perkuat keamanan siber

Sumber gambar, EPA
Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah mengeluarkan proposal untuk memperkuat undang-undang keamanan siber. Proposal ini dikeluarkan menyusul rangkaian serangan yang menargetkan beberapa organisasi AS.
Dalam proposalnya, Obama mengusulkan undang-undang yang akan meningkatkan cara berbagi informasi mengenai ancaman siber antara pemerintah dan sektor swasta.
Undang-undang baru ini juga akan memperbarui kerangka hukum yang diperlukan untuk menghukum pelaku kejahatan siber.
Proposal ini dijadwalkan untuk dikirim ke Kongres secepatnya. Terdapat indikasi bahwa Kongres AS yang <link type="page"><caption> mayoritas anggotanya dari Partai Republik</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/01/150106_amerika_kongres" platform="highweb"/></link> akan mendukung proposal undang-undang baru tersebut.
"Kita harus berada selangkah di depan orang-orang yang membahayakan kita. Ancaman pada keamanan siber merupakan bahaya yang mendesak,” kata Obama pada Selasa (13/01) waktu setempat.
Baru-baru ini, serangan siber melanda <link type="page"><caption> Sony Pictures</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/01/150108_fbi_interview_korut" platform="highweb"/></link> dan laman Twitter Pentagon.

Sumber gambar,
<link type="page"><caption> Cybercaliphate atau Kekhalifahan Maya</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/01/150112_amerika_isis_komandopusat" platform="highweb"/></link> mengunggah daftar nama dan nomor telepon personel militer Amerika Serikat di Twitter.
Satu pesan berbunyi, "Tentara Amerika Serikat, kami datang, berhati-hatilah".
Cybercaliphate juga mengunggah pesan, "sudah di sini, kami ada di komputer Anda, di setiap pangkalan militer".
Akun tersebut kemudian ditutup.
Peretasan data dalam jumlah besar juga dialami beberapa gerai di AS, antara lain Home Depot dan Target.












