Kontrasepsi satu dolar untuk keluarga berencana

Sumber gambar, Science Photo Library
Sebuah kesepakatan telah ditandatangani untuk membuat suntikan kontrasepsi tersedia dengan murah bagi kaum perempuan di 69 negara termiskin di dunia.
Alat suntik khusus dengan jarum yang lebih kecil dan tidak berbentuk seperti alat suntik tradisional ini akan dijual hanya seharga US$1 atau sekitar Rp12.000.
Kesepakatan yang ditandatangani beberapa hari lalu ini tercapai antara yayasan milik Bill Gates -pemilik Microsoft- Gates Foundation, perusahaan farmasi Pfizer, dan Children's Investment Fund Foundation.
Teknologi serupa sebelumnya sudah digunakan untuk memberikan vaksinasi anti-Hepatitis B di Indonesia beriaya murah.
Adapun untuk kontrasepsi maka Burkina Faso akan menjadi negara pertama yang menggunakannya.
Tanpa infeksi jarum suntik
Alat kontrasepsi yang dikenal dengan nama Sayana Press sudah dikemas lengkap dengan obat sehingga petugas medis tidak perlu mempersiapkan alat suntik.
Obat dikeluarkan hanya dengan menekan kemasan plastiknya, dan memberikan perlindungan untuk tiga bulan.
Berkat desainnya yang disebut Unijet, tidak ada risiko tumpah atau dosis obat yang tidak tepat. Karena alat tidak bisa dipakai ulang, maka kemungkinan infeksi melalui jarum suntik juga tidak ada.
Kemudahan menggunakan alat ini berarti pula para petugas kesehatan dapat dilatih lebih cepat -yang menjadi pertimbangan penting bagi negara-negara berkembang.
Kadidia Diallo, seorang bidan di ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou, mengatakan alat kontrasepsi ini lebih mudah diterima para perempuan di daerah pedesaan.
"Biasanya untuk suntikan kita harus menyuntikkannya ke bokong atau bagian atas kaki seseorang, tapi dengan alat ini kita bisa menyuntikkanya di lengan," jelas Diallo.
"Ini merupakan keuntungan bagi para pempuan dari pedesaan. Banyak dari mereka tidak akan datang jika harus membuka pakaian mereka, yang ini lebih bersifat rahasia."

Sumber gambar, Science Photo Library
Menjangkau perempuan miskin
Kurangnya kontrasepsi di Afrika sub-Sahara memang menjadi masalah.
Meskipun proporsi perempuan yang menggunakan kontrasepsi di Afrika telah berlipat ganda dalam dua dasawarsa terakhir -menjadi 26%- namun tetap sulit diterapkan untuk para perempuan yang miskin, tidak berpendidikan, atau tinggal di daerah pedesaan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 222 juta perempuan di negara-negara berkembang ingin menunda atau mencegah kehamilan, namun saat ini masih tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun.
Alat kontrasepsi melalui suntikan masih merupakan metode keluarga berencana yang biasanya tersedia bagi banyak perempuan di negara berkembang di mana risiko meninggal karena melahirkan masih bisa mencapai satu di antara 15.
Negara berikutnya yang dijadwalkan segera menggunakan Sayana Press adalah Niger, Senegal, dan Uganda.









