Qatar gagal atasi pelanggaran ke pekerja migran

qatar

Sumber gambar, getty

Keterangan gambar, Tim FIFA di stadion terbuka Qatar yang menggunakan teknologi pendingin tenaga matahari.

Qatar gagal mengatasi pelanggaran terhadap pekerja migran, demikian peringatan yang dikeluarkan Amnesty International.

Pernyataan ini dikeluarkan enam bulan setelah dimulainya pekerjaan stadion <link type="page"><caption> Piala Dunia</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/olahraga/2014/11/141106_platini_pialadunia_2022.shtml" platform="highweb"/></link> FIFA 2022.

Bulan Mei, Amnesty menyatakan hanya sedikit terjadi perbaikan terhadap usaha mengakhiri penyalahgunaan.

Diantaranya, laporan tersebut menggarisbawahi "ketinggalan" Qatar dalam memperbaiki hukum kontroversial yang mengaitkan migran dengan satu orang majikan.

Amnesty menyatakan persyaratan bahwa para pekerja mendapatkan izin keluar dari majikannya untuk meninggalkan negara tersebut juga masih berlaku.

Sherif Elsayed-Ali, pimpinan Hak Pengungsi dan Migran Amnesty International mengatakan, "Waktu hampir habis. Sudah empat tahun sejak Qatar memenangkan usaha menjadi tuan rumah Piala Dunia, menjadikan dunia memperhatikan negara ini, dan sampai sejauh ini respon terhadap pelanggaran pekerja migran tidak lebih daripada janji aksi dan rancangan undang-undang."

Dia menambahkan diperlukan tindakan mendesak untuk memastikan Piala Dunia dibangun berdasarkan tenaga kerja paksa dan eksploitasi.