Provinsi Anbar Irak terancam serangan ISIS

Sumber gambar, AFP
Pejabat Irak di provinsi Anbar telah menyerukan dukungan mendesak dan keterlibatan berbagai pihak untuk menghadapi ancaman serangan kelompok militan Negara Islam yang terus menggempur wilayah itu.
Selama tiga pekan terakhir kelompok militan ISIS telah menguasai dua markas militer Irak dan saat ini pertempuran sengit terjadi setiap hari di luar ibu kota provinsi, Ramadi.
Serangan udara koalisi pimpinan AS di wilayah ini telah dihentikan dan lebih diutamakan untuk mempertahankan bendungan Haditha yang dianggap lebih bernilai strategis.
Para pejabat militer AS mengatakan situasi di Anbar "lemah", seperti dilaporkan Kantor berita AFP.
Dan apabila wilayah Anbar dikuasai kelompok ISIS, maka mereka akan mampu mengontrol wilayah yang membentang dari perbatasan dengan Turki ke pinggiran kota Baghdad.
Sebelumnya, Kabinet pemerintah <link type="page"><caption> Australia sepakat mengirim jet-jet tempur</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/10/141003_world_australia_isis" platform="highweb"/></link> ke Irak guna membantu aksi militer yang dipimpin AS dalam melawan kelompok milisi Negara Islam atau ISIS.
Tidak sendirian
Menurut Perdana Menteri Tony Abbott, Irak seharusnya tidak sendirian ketika memerangi kelompok milisi ISIS.

Sumber gambar, AFP
Awal Oktober lalu, pesawat Angkatan Udara<link type="page"><caption> Inggris menyerang dua target</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/09/140930_raf_serang_isis" platform="highweb"/></link> kelompok yang menamakan diri Negara Islam di Irak, menurut Kementerian Pertahanan negara itu.
Sementara itu Utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, memperingatkan bahwa sampai <link type="page"><caption> sekitar 700 orang, kebanyakan orang tua, masih terperangkap</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/10/141010_suriah_kobane" platform="highweb"/></link> di kota Kobane, Suriah, yang berbatasan dengan Turki.
Utusan PBB itu juga mendesak Turki untuk mengizinkan masuk para sukarelawan yang ingin ke Suriah untuk membantu mempertahankan Kobane dari kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.
Selama tiga minggu ini, Kobane menjadi medan perang besar antara pasukan ISIS dan Kurdi.









