Polisi Hong Kong bubarkan protes pro-demokrasi

Protes dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dan aktivis yang mendukung pemilu demokratis.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Protes dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dan aktivis yang mendukung pemilu demokratis.

Kepolisian Hong Kong telah berhasil membubarkan para pengunjuk rasa pro-demokrasi yang menduduki kompleks pemerintahan utama sejak Jumat (26/09).

Pembubaran ini dilakukan menyusul bentrokan yang terjadi Jumat malam. Ketika itu, polisi menggunakan semprotan merica untuk memulihkan ketertiban.

Setidaknya 30 orang terluka dan setidaknya 13 orang ditangkap.

Walau kompleks pemerintahan telah 'bersih' dari pendemo, sejumlah laporan menyebutkan pengunjuk rasa masih melakukan aksi di luar kompleks.

<link type="page"><caption> Para aktivis dan mahasiswa berunjuk rasa</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/09/140923_hong_kong_mahasiswa_protes.shtml" platform="highweb"/></link> menentang keputusan pemerintah Beijing yang membatalkan rencana pelaksanaan pemilu demokrasi penuh di Hong Kong pada 2017.

Keputusan itu telah mendorong gerakan protes, dipelopori oleh sebuah kelompok yang disebut <link type="page"><caption> <italic>Occupy Central</italic>.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/09/140922_hongkong_boikot" platform="highweb"/></link>

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu (27/09), Occupy Central menuduh bahwa semprotan merica digunakan tanpa peringatan, dan mengutuk penggunaan "kekerasan yang tidak perlu" terhadap pengunjuk rasa yang melakukan aksi secara damai.

"Kami sangat mengutuk tindakan tersebut yang tidak hanya melanggar kode etik kepolisian, tetapi juga menginjak-injak kebebasan rakyat berekspresi," kata kelompok itu.