Polisi tembaki demonstran di Liberia

Sumber gambar, Getty
Aparat keamanan di ibu kota Liberia, Monrovia, menembakkan peluru dan gas air mata guna menghalau para demonstran yang memprotes pemberlakuan karantina di wilayah kumuh guna mencegah penyebaran virus ebola.
Akibat tembakan tersebut, sedikitnya empat orang mengalami cedera.
Para demonstran, yang merupakan warga kawasan kumuh West Point, mengatakan wilayah karantina yang dikelilingi kawat berduri telah menyulitkan mereka untuk melakoni aktivitas sehari-hari, seperti pergi bekerja dan membeli makanan.
Berdasarkan pemantauan wartawan BBC di Monrovia, Jonathan Paye-Layleh, serdadu senantiasa berpatroli di West Point guna mencegah warga bepergian. Hal itu menyebabkan ketegangan dan kekhawatiran di antara masyarakat.
Akhir pekan lalu, warga West Point menyerang sebuah pusat karantina, menjarah matras-matras dan membantu pasien-pasien yang diduga terpapar virus ebola untuk pergi.
Padahal, Liberia merupakan negara dengan korban meninggal terbanyak di kawasan Afrika Barat tahun ini. Sedikitnya 576 orang meninggal akibat virus ebola di Liberia.
Secara keseluruhan, sebanyak 1.350 pasien virus ebola meninggal di Guinea, Nigeria, Sierra Leone, dan Liberia.

Sumber gambar, EPA
Menanggapi kondisi ini, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf mengeluhkan rakyatnya yang tidak peduli terhadap peringatan pemerintah.
“Kami tidak mampu mengendalikan penyebaran lantaran penyangkalan, praktik-praktik budaya, ketidakpedulian terhadap nasihat pekerja kesehatan, dan ketidakpedulian terhadap peringatan pemerintah,” kata Sirleaf.
Sebagian warga Liberia menganggap virus ebola merupakan kebohongan atau hoax. Ada pula yang tidak memercayai obatan-obatan ala Barat dan menganggap virus ebola adalah guna-guna.









