3,7 juta warga Sudan Selatan krisis pangan

Perserikatan Bangsa-bangsa memperkirakan 3,7 juta jiwa terancam kelaparan di Sudah Selatan akibat konflik sipil yang kembali membara.
Koordinator Kemanusiaan PBB di Sudan Selatan, Toby Lanzer kepada BBC mengatakan bantuan senilai $1,3 juta (RP15 miliar) dibutuhkan untuk mengatasi krisis ini.
Kekerasan baru merebak di Sudan Selatan 15 Desember lalu akibat pertikaian antar kelompok bersenjata.
Sudah <link type="page"><caption> ribuan orang tewas</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/12/131227_southsudan.shtml" platform="highweb"/></link> akibat rusuh ini, dan sekitar 860.000 warga setempat mengungsi.
Lanzer mengatakan kekerasan juga meluluhlantakkan sendi ekonomi setempat.
"Karena pasar terganggu, warga yang sudah terbiasa hidup di bawah kondisi sangat sulit, (kini) mereka tak bisa lagi bergerak sebebas sebelumnya," tambahnya.
"Pada pertengahan Desember lalau tak ada orang... yang bisa meramalkan skala daruratnya akan separah ini. Kami melakukan apa saja sebisanya untuk mencegah terjadinya bencana," katanya.
Jumlah mereka yang terancam tak punya bahan makanan diduga mencapai sepertiga dari total populasi Sudan Selatan.
Akibat parahnya krisi ini di kota Malakal, sejumlah warga menyerbu sebuah gudang penyimpanan bantuan dan "mengambil sendiri makanan".

Sumber gambar, AFP
"Sebagian besar aksi penjarahan dilakukan orang yang sangat terdesak mendapat bantuan ini sehingga mereka tak sanggup menunggu," belanya.

Sebuah <link type="page"><caption> kesepakatan </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/01/140114_majalah_lain_sudan_selatan.shtml" platform="highweb"/></link>untuk menghentikan pertempuran disepekati sambil menunggu dua pihak yang bertikai bertemu lagi untuk pembicaraan damai yang akan dilangsungkan 7 Februari.
Meski demikian menurut organisasi amal media MSF, 240 pekerjanya di Sudan Selatan terpaksa menyelamatkan diri karena rusuh masih berlanjut.









