Pabrik di Dhaka kembali beroperasi

Jutaan pekerja sektor garmen Bangladesh akhirnya kembali ke pabrik setelah beberapa hari kegiatan produksi lumpuh karena aksi demo buruh.
Robohnya bangunan Rana Plaza di Dhaka yang menewaskan sedikitnya 400 korban dianggap jadi bukti bagaimana kondisi kerja setempat sangat buruk dan buruh dibiarkan terancam nyawanya saat bekerja.
Pabrik-pabrik menutup kegiatan produknya karena takut jadi sasaran amuk para buruh sementara polisi menjaga sejumlah pabrik yang minta perlindungan.
"Semua pabrik sudah buka lagi hari ini dan buruh kembali bekerja," kata Shahidullah Azim, Wakil Presiden Asosiasi Eksportir dan Produsen Garmen Bangladesh kepada kantor berita AFP.
Azim mengatakan belum ada laporan baru soal aksi demo atau bentrokan dengan para buruh.
Hari Rabu (1/5), aksi mayday dilangsungkan jutaan buruh di Dhaka dengan demonstrasi metuntut hukuman mati bagi pemilik Rana Plaza serta penyediaan kondisi kerja yang lebih layak.
Sehari sebelumnya PM Bangladesh Sheikh Hasina mendesak para buruh kembali bekerja dengan mengatakan mereka terancam menganggur kalau pabrik ditutup.
Jutaan pekerja
Hari Kamis (2/5) tujuh lagi jenazah ditarik dari reruntuhan gedung, Rana Plaza sehingga total korban jiwa mencapai sedikitnya 427.

Dalam bangunan itu terdapat lima pabrik garmen dengan ribuan pekerja.
Sehari sebelum ambruk sudah ditemukan retakan serius namun petugas pemerintah pemeriksa kelaikan gedung mengatakan bangunan tak berbahaya ditempati.
Akibatnya gedung kemudian runtuh dan masih banyak pekerja yang belum diketahui nasibnya, sementara 2.500 luka akibat insiden ini.
Garmen adalah industri penting di Bangladesh, lebih dari tiga juta orang bekerja di bidang ini.
Kebanyakan buruh adalah perempuan yang datang dari desa-desa miskin di luar Dhaka.
Polisi sudah menahan delapan orang termasuk pemilik gedung dan petugas pemeriksa kelaikan gedung dalam kasus ini.









