PM Malaysia bubarkan parlemen untuk pemilu

Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, membubarkan parlemen dan membuka jalan untuk menyelenggarakan pemilu.
Koalisi yang berkuasa di Malaysia telah memerintah Malaysia dalam 56 tahun terakhir dan mayoritas berkurang sejak 2008.
Kelompok koalisi, Barisan Nasional, menghadapi aliansi oposisi yang dipimpin oleh mantan perdana menteri Anwar Ibrahim, yang mendekam 15 tahun di penjara.
Pemilu -yang dianggap banyak kalangan tantangan terberat bagi koalisi pemerintah setelah 56 tahun berkuasa- diperkirakan akan diselenggarakan akhir bulan ini.
Dalam pengumuman di televisi, Najib Razak mendesak semua partai politik untuk mematuhi peraturan yang ada.
Najib juga berjanji akan ada transisi yang lancar bila pihak oposisi menang.
Oposisi siap menang
"Bila ada perubahan kepemimpinan, penyelenggaraanya berlangsung dengan damai. Inilah komitmen kami," kata Najib.
Najib menghadapi pemilu pertama sejak mulai menjabat tahun 2009, setelah koalisi kehilangan kursi mayoritas.
Sementara itu, Anwar Ibrahim mengatakan peluang untuk menang bagi mereka sangat bagus.
"Bagi Pakatan Rakyat, inilah peluang tebaik untuk demokrasi dan pemeirntahan yang lebih bertanggung jawab. Saya rasa peluang untuk menang, sangat bagus," kata Anwar kepada kantor berita AFP.
Najib berusaha keras meningkatkan citra pemerintahannya termasuk partainya UMNO dengan meluncurkan serangkaian reformasi untuk meningkatkan perekonomian dan <link type="page"><caption> memberikan kebebasan sipil yang lebih besar</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/08/120814_malaysia_internet.shtml" platform="highweb"/></link>.
Namun kritikan terhadap pemerintahannya meningkat dan pihak oposisi menjanjikan era baru.









