Pertama kalinya penguasa Pakistan bertahan

Untuk pertama kalinya pemerintah Pakistan selamat menjalankan kekuasaannya selama satu masa pemerintahan setelah berbagai insiden kekerasan maupun kudeta dalam sejarah negara itu.
Pencapaian ini disebut penguasa setempat sebagai 'kemenangan' demokrasi dan harapan bagi Pakistan di masa depan.
"Tak ada yang akan membahayakan demokrasi di masa depan," kata Perdana Menteri Raja Pervez Ashraf.
Setelah berakhirnya kekuasaan pemerintahan kali ini, sebuah pemerintahan sementara akan dibentuk untuk menyelenggarakan negara hingga pemilu berikutnya yang dijadwalkan berlangsung Mei.
Sejak Pakistan dibangun tahun 1947, pemerintahan datang dan pergi setelah kudeta, bubar akibat perseteruan politik atau berakhir gara-gara asasinasi perdana menteri.
'Danau susu dan madu'
Sejarah bentrokan kelompok demokratis dan non-demokratis di Pakistan sudah sangat panjang namun kekuatan demokratis ' akhirnya mencapai kemenangan' kata PM Ashraf dalam sebuah pidato di televisi yang disiarkan ke seluruh negeri.
Ia menambahkan Pakistan akhirnya mampu memperkuat "fondasi demokrasinya".
Ia mengakui kalau partainya, Partai Rakyat Pakistan (PPP) belum 'mampu menyediakan danau penuh susu dan madu' untuk rakyat negara itu namun ia mengatakan pemerintah telah berupaya sekuat tenaga mengatasi beragam persoalan yang membelit negara itu.
Untuk pemilu berikutnya PM Ashraf juga menjanjikan dijalankannya praktek jujur dana dil dimana partai-partai yang terlibat diharapkan akan bersepakat dengan 'baik-baik' tentang siapa kandidat yang akan jadi pimpinan sementara kabinet.
Parlemen Pakistan dibubarkan pada tengah malam tadi, Minggu (17/03) dan pemerintahan sementara diharapkan mulai dibentuk pekan depan.
Dua kubu oposisi utama, masing-masing dipimpin mantan PM Nawaz Sharif dan mantan bintang kriket dunia Imran Khan, diperkirakan akan menjadi pesaing utama PPP dalam pemilu.
Pada saat yang sama PM Ashraf juga menghadapi sangkaan korupsi penerimaan suap saat masih menjabat.
Ashraf, yang menjadi perdana menteri kaena pendahulunya dipecat akibat bentrok dengan kubu peradilan, baru memerintah kurang dari setahun.









