
Kubu oposisi Suriah terpecah-belah secara lembaga maupun ideologi.
Kubu oposisi Suriah akan bertemu dalam sebuah konferensi besar di ibukota Qatar, Doha, hari MInggu (4/11) untuk membicarakan upaya menyatukan fron oposisi yang selama ini terpecah-belah.
Hasil akhir dari pertemuan ini bisa jadi berbentuk lembaga untuk menggantikan Dewan Nasional Suriah (SNC), yang saat ini menjadi kubu oposisi utama di pengasingan.
SNC selama ini kerap dikritik tak paham situasi kelompok pejuang di dalam negeri Suriah, sementara secara ideologis kubu oposisi juga terbelah.
SNC diperkirakan akan mencoba mencari titik temu dengan kubu oposisi lainnya dengan sebuah landasan bersama , tulis wartawan BBC di Doha, Jim Muir.
Kelompok oposisi lain akan turut hadir, termasuk pembangkang terkemuka Riad Seif.
Seif nampaknya didorong oleh pemerintah AS agar menjadi kepala dari pemerintahan di pengasingan yang nantinya akan dinamai Inisiatif Nasional Suriah.
"Sebuah (pemerintahan) alternatif terhadap rezim (Bashar Al-Assad) sangat dibutuhkan," kata Seif pada kantor berita Reuters.
"Yang kita bicarakan adalah jangka waktu sementara dimulai dengan pembentukan kepemimpinan politis hingga sebuah dewan nasional yang mewakili seluruh rakyat Suriah dapat bertemu di Damaskus, begitu Assad tumbang," tambahnya.
Yang datang dalam konferensi di Doha ini antara lain adalah berbagai kelompok agama dan sekuler, juga tokoh Kurdi dan para pembangkang yang merupakan anggota suku Alawiyah yang merupakan asal-usul Presiden Assad.
Pemerintah AS berharap kepemimpinan baru ini akan mampu menyatukan elemen oposisi yang terpisah dan menjadi ujung dari upaya penumbangan kekuasaan Assad yang kini sudah makan korban lebih dari 36.000 jiwa sejak aksi massa dimulai Maret tahun lalu.
'Kejahatan perang'
Konferesi di Doha ini dilangsungkan sehari setelah pasukan pemberontak di utara Suriah melancarkan serangan besar-besaran untuk merebut sebuah landasan udara penting.

Sudah 36.000 jiwa lebih tewas sejak aksi publik menentang Presiden Assad bulan Maret 2011.
Dalam sebuah rekaman video yang di-posting ke internet Sabtu (3/11) nampak sejumlah anggota pasukan perlawanan menyerang landasan Taftanaz yang secara strategis dianggap sangat penting di wilayah utara dengan peluncur roket, mortar, dan senjata lain berkali-kali.
Menurut pegiat pertempuran di Taftanaz yang dianggap sangat menentukan terhadap kelangsungan pasokan amunisi dan logistik pasukan pemerintah ke wilayah utara Suriah masih berlanjut sampai Sabtu malam meski laporan media milik pemerintah mengatakan tentara Suriah berhasil memukul mundur serangan itu.
Pasukan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir terus menggiatkan serangan dengan serbuan udara ke wilayah perlawanan yang umumnya kurang persenjataan anti-serangan udara.
Sebuah rekaman video lain muncul Jumat (2/11) lalu menunjukkan pasukan perlawanan tengah memukuli dan menembak mati sekelompok tahanan yang diduga anggota tentara Suriah yang tergeletak di lantai.
Meski belum jelas kebenaran isi rekaman tersebut, sebuah faksi Islam radikal bernama Fron al-Nusra diduga pelaku tindak brutal yang berlangsung di Saraqeb, dekat kota Idlib.
Menurut PBB video semacam ini bisa dipakai sebagai bukti kejahatan perang.
Sementara pemerintah AS menyatakan "mengutuk pelanggaran HAM oleh pihak mana pun di Suriah".






