
Gencatan senjata di Suriah kecil untuk dilakukan pada saat Idul Adha.
PBB membuat rencana cadangan untuk pasukan perdamaian di Suriah ketika gencatan senjata terjadi.
PBB telah meminta agar dilakukan gencatan senjata selama peringatan hari raya Idul Adha, yang dimulai Jumat (26/10) mendatang.
Sebuah misi pemantau yang beroperasi di Suriah pada awal tahun ini, sebagai bagian dari kegagalan rencana perdamaian PBB-Liga Arab, tetapi ditarik setelah situasi di negara tersebut dinilai semakin berbahaya.
Dewan Keamanan PBB, yang berbeda pendapat mengenai Suriah, akan menyetujui penempatan pasukan perdamaian.
Negara-negara Barat dan Arab telah mendesak PBB untuk segera bertindak dalam mengatasi masalah kekerasan di Suriah, tetapi resolusi yang diajukan telah diveto oleh Rusia dan Cina.
Kepala pasukan perdamaian PBB, Herve Ladsous, mengatakan departemennya mempertimbangkan pilihan waktu gencatan senjata atau kesepakatan politik di Suriah.
"Saya akan mengkonfirmasi itu, tentu saja, kami memberikan banyak perhatian terhadap apa yang akan terjadi dan ketika solusi politik atau setidaknya pelaksanaan sebuah gencatan senjata," kata dia kepada wartawan di PBB.
Kemungkinan kecil
Masih terlalu dini untuk mengatakan berapa banyak pasukan perdamaian akan dikirimkan, tambah Ladsous.
Bagaimanapun, wartawan BBC Barbara Plett di PBB mengatakan kemungkinan untuk melakukan gencatan senjata pada saat liburan umat Muslim, tampak kecil.
Koresponden BBC mengatakan pemberontak ataupun tentara tidak menunjukkan tanda-tanda persiapan untuk menghentikan pertempuran, ketika anggota dari tentara oposisi mengatakan keraguan mereka terhadap implementasi gencatan senjata informal.
April lalu, misi pemantauan PBB diterjunkan ke Suriah untuk mengawasi gencatan senjata, sebagai bagian dari rencana perdamaian yang dilakukan oleh utusan internasional Kofi Annan.
Bagaimanapun, kehadiran pemantau itu gagal untuk menghentikan kekerasan. Mereka tidak dapat bergerak bebas dan pertempuran terus terjadi di sejumlah lokasi.
Mereka menghentikan patroli pada Juni lalu. Dua bulan kemudian, Dewan Keamanan PBB memutuskan tidak memperpanjang mandat mereka.
Annan kemudian mundur pada Agustus dan digantikan oleh utusan veteran Lakhdar Brahimi.
Ketika menduduki jabatan, Brahimi telah diperingatkan, kemungkinan kecil baginya untuk dapat mengakhiri kekerasan di Suriah.






