
Tim penyelidik yang dipimpin Pinheiro mengumpulkan bukti dan kesaksian.
Komisi penyelidik PBB dalam kasus kejahatan perang mengatakan mereka telah meminta pertemuan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk membicarakan akses tim di Suriah.
Pertemuan tersebut diperlukan karena tim penyelidik belum mendapat akses di Suriah sejak komisi penyelidik dibentuk satu tahun lalu.
"Kita memutuskan mengirim surat kepada Presiden Bashar al-Assad untuk meminta pertemuan... sangat penting bagi presiden untuk bisa menerima kami," kata ketua komisi Paulo Pinheiro kepada wartawan di Jenewa pada Kamis, 25 Oktober.
"Kami bermaksud berkunjung ke sana tanpa syarat-syarat untuk bertemu dengan Presiden Assad guna membicarakan akses komisi ke Suriah," tambah Pinheiro.
Tim investigasi dibentuk sekitar satu tahun lalu dan sejak saat itu telah melakukan lebih dari 1.000 wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Suriah.
Mereka antara lain adalah pengungsi dan pembangkang Suriah.
Kedua pihak
"Kita menangani kejahatan yang sama, sudah pasti kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang."
Carla del Ponte
Menurut salah satu anggota komisi Carla del Ponte, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang hampir dipastikan terjadi di Suriah.
Carla del Ponte, mantan jaksa penuntut Mahkamah Kejahatan Perang PBB, mengatakan kepada BBC bahwa setelah melihat bukti-bukti dalam konflik selama 18 bulan terakhir dia melihat kemiripan kejahatan perang di Bosnia.
"Kita menangani kejahatan yang sama, sudah pasti kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang," kata del Ponte seperti dilaporkan wartawan BBC di Jenewa, Imogen Foulkes.
"Tentu sebagai mantan jaksa penuntut saya bisa mengatakan ya, mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan harus diadili."
Dalam laporan awal, komisi penyelidik menyebutkan sejauh ini kejahatan perang mayoritas diduga dilakukan oleh pemerintah, tetapi kelompok pemberontak diduga juga melakukan kejahatan perang tetapi dengan skala lebih kecil.






