
Salah satu gedung yang rusak akibat gempa dan tsunami di Kesunnuma, Maret 2011.
Jepang menggunakan dana rekonstruksi gempa dan tsunami 2011 untuk proyek-proyek lain yang tidak terkait, menurut badan audit pemerintah.
Proyek-proyek yang dibangun dengan dana US$150 miliar termasuk pembangunan jalan di Okinawa, kampanye untuk gedung tertinggi di Jepang serta untuk penelitian ikan paus.
Sekitar 325.000 orang masih belum memiliki tempat tinggal 18 bulan setelah bencana terjadi.
Di sejumlah tempat, proyek pembangunan bahkan hanya sedikit yang dilakukan, menurut laporan audit itu.
Sekitar 19.000 orang tewas atau hilang menyusul tsunami dan gempa yang mengguncang Jepang bulan Maret 2011.
Pemerintah meloloskan sejumlah anggaran tambahan untuk mendanai pembangunan kembali di daerah bencana.
Belum ada pembangunan
"Dalam 19 bulan, belum ada perubahan besar"
Takashi Kubota
Namun audit pemerintah menunjukkan dana itu digunakan untuk proyek yang tidak terkait dengan alasan pembangunan itu.
Takashi Kubota, wakil walikota Rikuzentakata, kota pelabuhan yang sebagian hancur, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa "belum ada satu gedung baru pun" yang dibangun.
"Dalam 19 bulan, belum ada perubahan besar," katanya.
Perdana Menteri Yoshihiko Noda mengatakan di depan parlemen bahwa pemerintahnya akan mengatasi masalah tersebut.
"Sejumlah pihak mengkritik tentang penggunaan dana pembangunan kembali," kata Noda.
"Kami harus mendengar semua suara yang menyerukan penetapan prioritas utama untuk pembangunan kembali di daerah bencana. Kami akan menganggarkan dana untuk daerah yang paling parah terkena," tambahnya.






