
Terdapat 17 warga Rusia dari 35 penumpang dalam pesawat yang dipaksa mendarat di Ankara.
Pemerintah Rusia meminta penjelasan dari Turki sehubungan dengan pendaratan paksa pesawat Suriah yang dianggap membahayakan para penumpangnya.
Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, pencegatan yang dilakukan pesawat tempur Turki itu membuat para penumpang berada dalam bahaya.
"Kami prihatin dengan situasi darurat yang membayakan hidup dan keselamatan mereka, termasuk 17 warga Rusia," tulis pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Alexander Lukashevich.
Pernyataan itu juga menegaskan Rusia akan tetap mendesak penjelasan tentang alasan dari tindakan pencegatan itu dan mengambil tindakan agar tidak terulang lagi di masa mendatang.
Turki mencegat sebuah pesawat penumpang Suriah -yang dicurigai membawa senjata- dan memaksanya mendarat di ibukota Ankara.
Pesawat yang membawa 35 penumpang kemudian diizinkan terbang kembali namun barang yang dibawanya disita untuk diperiksa lebih lanjut.
"Pihak Turki tidak memberi tahu kepada Kedutaan Besar Rusia di Ankara bahwa ada warga Rusia dalam pesawat penumpang yang ditahan itu. Kami mengetahuinya dari situs internet berita."
Kemenlu Rusia
Suriah sedang mendapat sanksi embargo senjata yang diterapkan oleh dunia internasional karena dinilai menggunakan kekerasan yang berlebihan dalam menangani kelompok perlawanan di negara itu.
Daftar kesalahan
Selain meminta penjelasan, pernyataan Rusia juga menyebutkan beberapa hal yang dianggap sebagai kesalahan serius yang dilakukan pihak berwenang Turki dalam kasus itu.
"Pihak Turki tidak memberi tahu kepada Kedutaan Besar Rusia di Ankara bahwa ada warga Rusia dalam pesawat penumpang yang ditahan itu. Kami mengetahuinya dari situs internet berita."
Mereka juga mengatakan sudah meminta akses untuk bertemu dengan para warga Rusia di dalam pesawat yang sempat ditahan sekitar delapan jam, namun pihak berwenang Turki tidak mengizinkan diplomat Rusia bertemu dengan rekan senegaranya.
Sementara itu ketegangan antara Turki dan Suriah tampaknya memuncak karena pemerintah Ankara menyatakan Suriah sudah menghentikan pembelian listriknya, Kamis 11 Oktober.
Turki merupakan pemasok sekitar 25% dari kebutuhan listrik Suriah.
Menteri Energi Turki Taner Yildiz, mengatakan kepada para wartawan, bahwa mereka siap untuk menyalurkan kembali aliran listrik jika diminta.
Dalam perkembangan lain, utusan khusus PBB untuk Suriah, Lakhdar Brahimi, Rabu kemarin sudah tiba di Jeddah, Arab Saudi, yang merupakan tujuan pertamanya dalam lawatan ke Timur Tengah untuk membahas krisis Suriah.
Dia diperkirakan akan terbang ke Suriah pekan depan untuk bertemu dengan Presiden Bashar al-Assad.






