
Kantor Kedubes AS di Tunisia juga didatangi pengunjuk rasa memprotes pembuatan film yang dinilai menghina Islam.
Pemerintah AS memerintahkan sebagian staf diplomatik beserta keluarganya di kantor kedutaan mereka di Tunisia dan Sudan untuk meninggalkan dua negara tersebut.
Dalam penjelasannya pemerintah negara itu mengatakan staf diplomatik yang diperintahkan merupakan staf diplomatik yang tidak memiliki peran sentral di kantor mereka atau non-essential staff.
Pemerintah AS juga meminta warganya yang berada di Tunisia untuk segera meninggalkan negara itu.
Kondisi ini menyusul aksi unjuk rasa memprotes pembuatan film anti Islam di depan kantor kedutaan besar AS di Tunisia dan Sudan.
Dalam aksi itu pengunjuk rasa berupaya untuk menyerang kantor kedutaan AS yang dituding bersalah ikut menyebarkan film tersebut.
Sebelumnya AS berupaya menawarkan bantuan untuk ikut mengamankan kantor kedutaannya namun tawaran itu tidak mendapat respon yang bagus.
Sudan sebelumnya telah menolak usulan AS untuk mengirimkan pasukan Marinirnya yang ingin melindungi kantor kedutaan AS di Khartoum.
Belum cukup
Pemerintah Sudan mengatakan pasukan keamanan mereka masih mampu menjaga kantor kedutaan AS dari serbuan pengunjuk rasa.
Wartawan BBC di Washington, Paul Adams mengatakan kementerian luar negeri yang dipimpin Hillary Clinton menilai pemerintah Sudan sudah mengambil langkah untuk membatasi aktivitas kelompok teroris namun hal itu dirasa belum cukup karena masih ada yang masih tersisa dan ini akan mengancam dunia Barat dengan sejumlah aksi serangan.
Pada hari Jumat (14/09) aksi unjuk rasa di Kantor Kedubes AS di Khartoum telah menewaskan tiga orang.
Aksi unjuk rasa saat itu juga menyasar kantor kedutaan Jerman dan Inggris.
Sementara aksi unjuk rasa di Tunisia yang juga menyasar kantor Kedubes AS dan sebuah sekolah Amerika juga berujung pada tewasnya dua orang warga.
Keprihatinan AS terhadap keamanan staf diplomatik dan warganya sangat beralasan menyusul tewasnya duta besar mereka di Libia beserta tiga stafnya akibat aksi unjuk rasa yang membakar kantor konsulat mereka di Benghazi.






