
Obama mengatakan, "Tidak ada pembenaran untuk kekerasan ini."
Presiden Barack Obama bersumpah akan membawa para pelaku pembunuhan duta besar AS untuk Libia.
Duta Besar J Christopher Stevens meninggal dunia setelah massa yang sedang berunjuk rasa memprotes sebuah film yang menghina Islam, menyerbu konsulat.
Namun Obama mengatakan pada para wartawan bahwa serangan terhadap konsulat Amerika di Benghazi itu tidak akan memutuskan ikatan antara AS dan pemerintah Libia yang baru.
Berbicara di Rose Garden di Gedung Putih, Obama mengatakan, "Keadilan akan ditegakkan."
"Sangat tragis bahwa Chris Stevens tewas di Benghazi karena ia telah membantu menyelamatkan kota itu," kata Obama dan memuji sang diplomat atas kerja kerasnya di Libia pasca tergulingnya Kol. Muammar Gaddafi.
Insiden itu memicu perdebatan politik di AS setelah rival Obama dari Partai Republik Mitt Romney mengkritik Obama atas serangan tersebut.
Sementara itu demonstran di Mesir bentrok dengan pasukan keamanan setelah massa kembali ke Kedutaan Besar AS untuk melancarkan aksi protes selama dua malam berturut-turut akibat film itu.
Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata pada para pengunjuk rasa, beberapa diantaranya membawa bom molotov seperti dilaporkan para saksi mata.
Serangan terencana?
Para pejabat AS mengatakan gedung konsulat di Libia ditembaki sekitar pukul 22.00 waktu setempat Selasa malam, dan gedung utama langsung terbakar.
Tiga orang warga negara Amerika lainnya tewas, termasuk Sean Smith, seorang pegawai Departemen Luar Negeri, dalam serangan yang disebut Gedung Putih sebagai serangan "kompleks."
Pasukan Libia dan AS berusaha merebut kembali gedung itu beberapa kali, kata pejabat AS, tetapi baru berhasil pukul 02.00 waktu setempat Rabu pagi.
Smith ditemukan meninggal dunia di dalam gedung. Sedangkan berdasarkan sejumlah laporan yang belum bisa dikonfirmasi, termasuk pernyataan dari pejabat Arab pada BBC, kekerasan itu kemungkinan sudah direncanakan.
Ada pula laporan yang mengatakan bahwa milisi yang dikenal dengan brigade Ansar al-Sharia terlibat, tetapi kelompok itu telah membantah keterlibatan mereka, seperti dilaporkan wartawan BBC Rana Jawad di Tripoli.






