
Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, memprotes film 'Innocence of Muslims' yang dituduh menghina Islam.
Massa mulai berdatangan di Jalan Medan Merdeka Selatan pada pukul 14.00 WIB.
"HTI mengutuk pemerintah AS yang membiarkan begitu saja film ini dibuat dan disebarluaskan kepada khalayak, sebagai perbuatan biadab yang tidak bisa dibiarkan begitu saja," kata juru bicara HTI, Muhammad Ismail Yusanto dalam pernyataannya.
Aksi unjuk rasa ini menyusul aksi serupa di sejumlah negara Afrika Utara dan Timur Tengah, seperti Libia, Mesir dan Yaman.
Sementara itu Kedutaan Besar AS mengatakan bahwa mereka telah mendapat informasi dari kepolisian dan mengambil langkah pengamanan sesuai protokol.
Pihak Kedubes menghimbau masyarakat untuk menghindari area sekitar lokasi unjuk rasa demi mengantisipasi kemungkinan aksi berjalan ricuh.
Selain di Jakarta, HTI juga berencana menggelar aksi serupa di konsulat AS di kota-kota lain di Indonesia.
Ormas ini mencontohkan perlawanan pemimpin Turki di masa Ottoman, Sultan Abdul Hamid II (1876-1909) yang melarang pementasan drama karya Voltaire yang dinilai mengandung unsur penghinaan terhadap Nabi Muhammad.
Reaksi keras
Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa seluruh misi diplomatik AS di berbagai negara menetapkan status siaga tinggi pasca serangan terhadap konsulat AS di kota Benghazi, Libia yang menewaskan sang duta besar.
Hari Kamis, unjuk rasa memprotes film tersebut di ibukota Yaman, Sanaa, berlangsung ricuh setelah demonstran berusaha merobos masuk ke halaman Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Polisi sempat melepas tembakan ke udara untuk membubarkan para pengunjuk rasa namun sebagian dari mereka tetap berhasil memasuki kompleks kedutaan.
Sementara itu di Kairo, Mesir, pengunjuk rasa bentrok dengan aparat keamanan di luar kompleks kedutaan Amerika Serikat.
Stasiun TV Mesir menyiarkan gambar-gambar tentang mobil polisi yang dibakar dan orang-orang berlarian menghindari tembakan gas air mata pada Rabu (12/09) malam.
Presiden Mesir, Mohamed Mursi, sudah mengecam film tersebut namun pada saat bersamaan menentang kekerasan.
Sekjen PBB Ban Ki-moon mengutuk film tersebut dan kekerasan yang diakibatkannya.
"Tidak ada yang dapat menjustifikasi pembunuhan dan serangan semacam itu," kata dia.
"Film yang penuh kebencian itu sepertinya sengaja dibuat untuk memupuk kefanatikan dan pertumpahan darah."






