Unjuk rasa menentang undang-undang penghinaan kerajaan Thailand

Sumber gambar, AP
Ratusan warga Thailand melakukan aksi unjuk rasa di ibukota Bangkok, Rabu 9 Mei, menentang undang-undang yang menjatuhkan hukuman berat bagi orang yang menghina keluarga kerajaan.
Unjuk rasa ini berlangsung sehari setelah meninggalnya seorang pria berusia 61 tahun, Amphon Tangnoppakul, yang ditahan karena menghina Ratu Sirikit.
Sekitar 400 pengunjuk rasa membawa jenazah pria itu dan melakukan upacara keamanan di depan gedung pengadilan di ibukota Bangkok, tempat Tangnoppakul dijatuhi hukuman penjara, November tahun lalu.
"Kematiannya mengingatkan kita untuk tetap berjuang dan pasal 112 harus diubah di masa depan," kata pengamat politik, Phuangtong Pakawan, yang ikut unjuk rasa kepada kantor berita AFP.
Tangnoppakul dinyatakan bersalah dalam dakwaan mengirimkan pesan SMS kepada yang dianggap menghina ratu walau dia menegaskan tidak tahu bagaimana cara mengirim pesan SMS.
"Saya akan membawa jenazahnya untuk melaksanakan upacara keagamaan di depan gedung pengadilan untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya mengubah pasal 112 dan mengizinkan mereka yang sakit mendapat pengobatan," tutur istrinya, Rosmalim Tangnoppakul, kepada para wartawan di rumah sakit setelah menerima jenazah suaminya.
Memicu kemarahan
Berdasarkan pasal 112 Undang-undang Pidana Thailand, setiap orang yang terbukti menghina raja, ratu, atau pewarisnya diancam hukuman penjara 15 tahun untuk setiap dakwaan.
Kelompok pegiat hak asasi manusia, Amnesty International, menyebut Amphon Tangnoppakul sebagai orang yang ditahan karena keyakinannya.
Ganjaran hukuman atas Tangnoppakul -yang belakangan dikenal dengan panggilan 'Paman SMS'- memicu kemarahan masyarakat umum.
Sementara itu hasil otopsi menunjukkan Amphon Tangnoppakul, yang diganjar hukuman 20 tahun penjara- meninggal dunia karena menderita kanker hati.
Amphon dibawa ke rumah sakit penjara pada Jumat pekan lalu karena sakit perut dan meninggal Selasa (08/05) pagi. Istrinya mengatakan dia sudah lama mengeluh tentang rasa sakit itu selama beberapa pekan.
Raja dan keluarga kerajaan secara keseluruhan merupakan subjek yang sangat peka di Thailand.
Selain Amphon, seorang warga Amerika Serikat kelahiran Thailand, Joe Wichai Commart Gordon, juga menghadapi dakwaan menghina keluarga kerajaan.









