Cina berencana beli surat utang Italia

Sumber gambar, AFP
Perusahaan Investasi Cina (CIC) tengah dalam perundingan dengan pemerintah Italia untuk kemungkinan membeli surat utang negeri itu.
Harian ekonomi Financial Times melaporkan Kepala CIC, Lou Jiwei, telah melakukan pertemuan dengan Menteri Keuangan Italia, Giulio Tremonti dan sejumlah pejabat tinggi Italia di Roma, pekan lalu.
Pembicaraan ini sudah berlangsung lama sebab dua pekan lalu para petinggi Italia sudah berkunjung ke Beijing.
Selain soal rencana pembelian surat utang, pembicaraan itu juga mencakup kemungkinan Cina menanamkan investasi di sejumlah perusahaan strategis Italia.
"Saat Anda diperkenalkan dengan pembeli besar seperti Cina, maka situasi ini akan menurunkan suku bunga," kata Mark Young dari lembaga pemeringkat utang Fitch kepada BBC.
"Selanjutnya mereka bisa mendanai ekonomi mereka dengan lebih mudah," tambah Young.
Tanggapan pasar
Kabar ini muncul di saat utang pemerintah Italia sudah mencapai titik tertinggi dan langsung menyebabkan pasar saham Amerika Serikat mengalami rebound, setelah sebelumnya mengalami penurunan.
Sementara itu, pada pembukaan pasar-pasar saham Asia, Selasa (13/9), rencana Cina ini ditanggapi secara variatif.
Sebab, para analis masih mempertanyakan apakah rencana Cina ini akan memberi pengaruh posiitif terhadap krisis utang Eropa.
Para analis masih melihat kemungkinan krisis utang Eropa terus menyebar, karena Yunani masih berada di dalam risiko kebangkrutan.
"Masalah utang Eropa tak hanya bergerak dari satu krisis ke krisis yang lain. Krisis Eropa kini bergerak ke krisis baru saat krisis lama belum terpecahkan," kata Makoto Noji dari perusahaan sekuritas SMBC Nikko.
Saling menolong
Saat ini utang nasional Italia mencapai 120% dari GDP yang berarti sebesar 23% besaran utang negara-negara pengguna mata uang euro atau Eurozone.
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), Italia harus menaikkan pendapatannya setidaknya sebesar 20% dari GDP pada 2012 untuk membayar utang-utangnya.
Di sisi lain, Cina kini memiliki cadangan uang tunai yang sangat besar, dengan cadangan mata uang asing lebih dari US$3 triliun atau hampir Rp25.000 triliun.
Para analis mengatakan dengan cadangan uangnya yang begitu besar, maka bukan hal aneh jika banyak negara meminta bantuan Cina.
"Suatu hal yang alamiah terdapat hubungan saling menolong antara negara kreditor dan debitor," papar Mark Young.









