Awak Air France kurang terlatih

Sumber gambar, airteamimages
Pilot pesawat Air France kurang terlatih sehingga terjadi kecelakaan yang menewaskan 228 orang di laut Atlantik pada tahun 2009, lapor penyelidik Prancis.
Otorita BEA (badan penyelidik kecelakaan penerbangan sipil) Prancis mengatakan para pilot gagal menyimpulkan sejumlah peringatan dan tidak dilatih menghadapi bahaya.
Air France menyangkal tuduhan tersebut dengan mengatakan tidak ada bukti yang mengisyaratkan ketidakmampuan pilot.
Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 228 orang tewas dalam penerbangan dari Brasil ke Prancis tersebut.
Latihan wajib
Para penyelidik mengatakan catatan saat-sat terakhir penerbangan dalam perekam penerbangan menyimpulkan awak pesawat gagal "secara resmi mengidentifikasi penurunan ketinggian" meskipun alarm berbunyi selama hampir satu menit.
Pilot kemudian bereaksi menaikkan pesawat bukannya menurunkan gerak pesawat.
Laporan tersebut juga mengatakan pilot gagal memperingatkan para penumpang.
Pemerintah mengeluarkan 10 usulan pengamanan baru, termasuk pelatihan wajib bagi semua pilot di Prancis untuk memastikan mereka mampu mengatasi masalah pada ketinggian yang tinggi.
Pernyataan Air France menyangkal temuan BEA dengan mengatakan "pada tahap ini tidak satu hal pun yang dapat menyatakan penyebab kecelakaan adalah ketidakmampuan teknis awak".
Profesional

Sumber gambar, afp
"Awak yang bertugas menunjukkan keprofesionalan dan tetap berusaha menjalankan pesawat sampai saat-saat terakhir. Air France menghormati keberanian dan tekad mereka dalam keadaan darurat.
"Alarm kehilangan ketinggian hidup dan mati beberapa kali, berlawanan dengan keadaan pesawat yang sebenarnya. Hal ini kemungkinan membuat awak sulit menganalisis keadaan," kata Air France.
Air France dan Airbus diselidiki atas tuduhan pembunuhan dalam kaitannya dengan kecelakaan ini.
Penerbangan AF 447 jatuh tanggal 1 Juni 2009 karena terbang menembus badai dahsyat pada ketinggian (latitude) yang tinggi, empat jam setelah meninggalkan Rio de Janeiro menuju Paris.
Puing-puing pesawat ditemukan setelah dilakukan pencarian dasar laut di wilayah seluas 10 ribu km2.









