Pekerja seks tampil terbuka di TV Zambia

Sebuah stasiun televisi di Zambia merilis acara reality show untuk menolong sejumlah perempuan pekerja seks komersial mencari calon suami.
Belasan pekerja seks terpilih ikut acara ini demi hadiah uang senilai $9,000 dan pesta pernikahan secara gratis.
Stasiun televisi Muvi, yang menayangkan acara itu, mengatakan acara itu untuk memberi kesempatan para perempuan itu untuk meraih kehidupan lebih baik.
"Kami ingin membuat sesuatu yang berbeda pada kehidupan perempuan ini. Mereka 'kan juga anggota masyarakat," kata juru bicara stasiun televisi itu, Coreena Paulina.
Wartawan BBC di ibukota Zambia, Lusaka, Mutuna Chanda mengatakan, acara ini sempat melahirkan kontroversi.
Selain para pekerja seks itu, memang tidak ada perempuan lain ikut acara televisi ini.
Tokoh agama setempat pendeta Jeff Musonda mendukung acara yang melibatkan para pekerja seks ini, dengan harapan mereka insyaf.
"Tapi kalau bertujuan mempromosikan pekerjaannya itu, ya saya menolak," kata Musonda kepada BBC.
Hadiah hiburan
Stasiun televisi Muvi mengatakan, mereka merekrut para perempuan pekerja seks itu di jalanan di berbagai wilayah negara itu.
Sejumlah peserta mengatakan terpaksa menjadi pekerja seks karena ditinggal suami dan harus membiayai anak-anaknya.
"Saya harus bertahan hidup demi 2 anak saya," kata Kawainga, 28 tahun.
"Saya menjadi pekerja seks karena diusir. Dan suami saya memaksa anak-anak ikut saya semua," kata lainnya.
TV Muvi mengatakan semua peserta yang dipilih pemirsa akan menerima hadiah hiburan senilai $1,000 dan "1,500.
Mereka juga ditawari pekerjaan penuh waktu sehingga mereka tidak kembali ke dunia lamanya.
Di kalangan pemirsa tv timbul beraneka komentar yang tidak seragam.
"Kalau mereka pekerja seks, ya, mereka tetap pekerja seks. Sulit mengubah itu semua dalam semalam," kata Humphrey Banda, seorang pemirsa.
Nada berbeda dilontarkan Priska Chisenga: "Tidak adil menilai mereka hanya dengan menengok masa lalunya."
Ketika pertama kali acara reality show seperti ini ditampilkan sekitar lima tahun lalu, sempat ada penolakan para pendeta yang mengatakan acara itu merusak nilai-nilai moral.









