Penerbangan di Australia berangsur normal

Penumpang pesawat di Australia

Sumber gambar, B

Keterangan gambar, Abu vulkanik sebabkan puluhan ribu orang penumpang terlantar di bandara Australia.

Penerbangan pesawat di bandara Australia bagian selatan berangsur normal setelah ditunda selama dua hari akibat abu vulkanik yang berasal dari gunung berapi Cile.

Maskapai penerbangan Qantas dan Virgin jets lepas landas dari Adelaide pada Rabu pagi. Jadwal penerbangan maskapai yang sama ke Melbourne dan ibukota, Canberra juga kembali normal.

Layanan pesawat dari Sydney, Newcastle dan Hobart akan dimulai pada sore ini.

Sebagian besar penumpang terpaksa menginap di bandara akibat gangguan jadwal penerbangan untuk kedua kalinya dalam pekan ini.

Pekan lalu, puluhan ribu orang terlantar karena penerbangan pesawat ditunda akibat abu vulkanik dari gunung berapi Puyehue-Cordon Caulle di Cile menutupi sejumlah kota di Australia dan Selandia Baru.

Jumat lalu, seluruh penerbangan kembali nornal, tetapi abu vulkanik kembali menutupi kota-kota di Australia untuk kedua kalinya dan menyebabkan sejumlah gangguan jadwal pesawat.

Abu vulkanik dapat menganggu penerbangan jika mengenai mesin pesawat dan dapat menyebabkan mesin mati.

Rabu ini, Andrew Tupper dari Badan Meterorologi Australia mengatakan abu vulkanik masih menutupi Hobart, tetapi udara di kota lain sudah bebas dari abu.

"Pagi ini sebagian besar wilayah di Australia bersih dari debu," kata dia kepada Australian Broadcasting Corporation.

"Sebagian besar dari abu bergerak ke Tasman dan akan berakhir di Selandia Baru dalam waktu dekat,"

Penerbangan ke Selandia Baru masih terganggu abu vulkanik, tetapi jurubicara Otoritas Keamanan Penerbangan Sipil Peter Gibson mengatakan dapat mungkin jadwal penerbangan akan kembali normal pada Kamis.

Gangguan abu vulkanik ini menurut maskapai Virgin menyebabkan sekitar 13.000 penumpang domestik terlantar, sementara maskapai Qantas menyebutkan 30.000 penumpang diperkirakan mengalami penundaan penerbangan.

Forum wisata dan transportasi mengatakan abu vulkanik ini menyebabkan gangguan terbesar yang terjadi dalam industri penerbangan Australia sejak pemogokan pilot pada 1989 lalu.

Analis dari Macquarie Equities memperkirakan kerugian yang dialami maskapai Qantas mencapai $21 juta dan Virgin $11 juta.