Israel lanjutkan pemukiman

Israel mengungkap rencana awal untuk membangun 238 rumah baru bagi pemukim Yahudi di Jerusalem Timur.
Dalam sebuah laporan disebutkan kalau rencana Israel ini terdiri dari 158 rumah di pemukiman Pisgat Zeev dan 80 lainnya di Ramot yang merupakan bagian dari rencana kementerian perumahan Israel.
Kebijakan ini keluar setelah pembicaraan damai Timur Tengah terancam buyar akibat masalah pemukiman ini.
Otoritas Palestina mengancam keluar dari pembicaraan kecuali jika Israel memperbarui larangan sepihak di pemukiman Tepi Barat.
Juru runding Palestina Saeb Erekat mengatakan kepada kantor berita AFP, kalu kebijakan yang baru itu membuktikan kalau Israel berniat untuk ''membunuh'' setiap kesempatan untuk kembali dalam pembicaraan damai diantara kedua belah pihak.
Pemukiman atau daerah pinggiran kota

Rencana kementerian perumahan Israel untuk Pisgat Zeev dan Ramot disetujui Kamis lalu oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, tetapi situs berita Ynet memberitakan, belum ada komentar dari kantor perdana mentri pada Jumat kemarin.
Palestina menunjuk proyek Pisgat Zeev sebagi perluasan pemukiman, dan menuduh Israel menggunakan cara itu untuk meningkatkan kehadiran orang Yahudi di wilayah yang dipenuhi orang Arab di kawasan timur kota itu, tetapi Israel memandangnya kalau proyek ini hanyalah sebuah daerah pinggiran kota di Jerusalem.
Komunitas Internasional menganggap Jerusalem Timur pembangunan pemukiman di daerah tersebut melanggar hukum internasional.
Persetujuan pembangunan ini merupakan yang pertama sejak Maret lalu, ketika Israel memberi lampu hijau untuk rencana pembangunan 1.600 pemukiman baru di Jerusalem Timur saat Wakil Presiden AS Joe Biden berkunjung ke negara itu, hal itu menyebabkan hubungan AS dan Israel memanas.
Netanyahu mendapat tekanan dari Washington untuk memperpanjang batas waktu pembangunan selama 10 bulan di wilayah pendudukan yang dikuasai Palestina di Tepi Barat.
Israel telah menguasai daerah pendudukan di Tepi Barat, termasuk Jerusalem Timur sejak 1967, dengan menempatkan sekitar 500.000 orang Yahudi di lebih dari 100 pemukiman. Meski dianggap melanggar hukum internasional, tapi Israel tetap membantahnya.
Palestina yang didukung oleh Liga Arab telah menyatakan tidak akan kembali ke pembicaraan langsung tanpa ada pembekuan pembangunan sepenuhnya, tetapi memberikan waktu sebulan bagi AS untuk membuka jalan buntu.









