Rusia lepas perompak Somalia

Rusia membebaskan perompak Somalia yang tertangkap dalam pembebasan dramatis kapal tanker Rusia awal minggu ini.
Menteri pertahanan Rusia mengatakan kelompok bajak laut itu terpaksa dibebaskan karena cacat dalam hukum internasional.
Rusia awalnya mengatakan 10 bajak laut itu akan diadili di Moskow dengan tuduhan tindak kriminal pembajakan.
Kapal Universitas Moskow dibajak hari rabu di Teluk Aden, lepas laut Yaman, dalam perjalanan menuju Cina dengan membawa minyak mentah senilai $50 juta.
Pasukan Rusia menyerbu kapal itu sehari kemudian dan membebaskan 23 awaknya yang masuk ke ruang perlindungan di kapal itu setelah terlebih dahulu melumpuhkan mesin kapal.
Satu perompak tewas dalam tembak menembak selama pembebasan kapal itu.
namun para perompak dibebaskan karena kurang lengkapnya tata hukum internasional menyangkut persoalan penahanan semacam ini, demikian Kolonel Alexei Kuznetsov seperti dikutip kantor berita Rusia Interfax.
Konvensi PBB mengenai hukum di laut, yang juga ditandatangani Rusia, memperbolehkan negara-negara berdaulat untuk menangkap dan menghukum bajak laut.

Namun banyak negara enggan melakukannya karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan para perompak setelah masa tahanan habis.
Ketika ditanya mengapa mereka membebaskan para perompak itu, Kolonel Kuznetsov mengatakan kepada kantor berita Associated Press: ''Mengapa kami harus memberi makan perompak?''
Ingkar janji
Teluk Aden adalah salah satu jalur pelayaran paling sibuk dunia, dan Rusia, Eropa dan Amerika telah mengirimkan angkatan lautnya ke kawasan setelah terjadi peningkatan serangan oleh perompak terhadap kapal-kapal komersial.
Tetapi tersangka perompak seringkali dibebaskan karena tidak tertangkap basah, kata wartawan BBC di Afrika Timur Will Ross.
Pasukan anti pembajakan Uni Eropa mengatakan bertemu dengan sekitar 50 kelompok perompak dalam beberapa bulan. Anak-anak muda bersenjata, dengan kapal-kapal kecil dan tangga, jelas bukan hendak mencari ikan di laut. Biasanya peralatan mereka lalu dihancurkan pasukan tersebut dan senjata mereka disita.
Mereka saat ini menahan sekitar 100 tersangka perompak di Kenya, dengan sebagian sedang menunggu pengadilan atau sedang menjalaninya.
Tetapi prosesnya berjalan lamban dan mahal.
Kenya mengatakan ingin meninjau ulang kesepakatan mereka dengan Uni Eropa, Inggris, Amerika, Kanada, Cina dan Denmark untuk mengadili para perompak ini karena negara-negara tersebut tidak sepenuhnya menjaga janji bantuan keuangan mereka.
Tersangka perompak juga dibawa diantaranya ke Amerika, Prancis dan Belanda untuk diadili.
Namun hingga jalan keluar internasional ditemukan, akan lebih banyak perompak dibebaskan dan hambatan untuk mencegah perampokan semakin lemah.









