Janda Kaukasus pembom metro Rusia

Abdurakhmanova dan almarhum suaminya
Keterangan gambar, Koran Rusia Kommersant menerbitkan foto tersangka dengan suaminya

Janda militan Kaukasus Utara yang berumur 17 tahun dicurigai sebagai salah seorang pembom bunuh diri yang menyerang kereta bawah tanah Moskow hari Senin lalu.

Polisi di Rusia selatan memastikan kepada BBC bahwa mereka telah memberikan informasi kepada markas polisi tentang Dzehennet Abdurakhmanova, dari Dagestan.

Pemboman di saat jam sibuk itu menewaskan 39 orang dan melukai lebih dari 70 orang, sebagian besar masih dirawat di rumah sakit.

Dagestan, seperti halnya Chechnya, melakukan operasi menghadapi kelompok militan.

Seorang juru bicara polisi mengatakan Abdurakhmanova menikah dengan Umalat Magomedov, yang tewas dalam operasi pasukan keamanan Rusia akhir tahun lalu.

Polisi belum dapat memastikan apakah ia memang salah seorang pembom bunuh diri.

Namun fotonya yang diterbitkan di surat kabar Rusia, Kommersant, sangat mirip dengan foto salah seorang pembom bunuh diri, kata wartawan BBC, Richard Galpin dari Moskow.

'Janda tragedi'

Stasiun metro Moskow
Keterangan gambar, Peringatan jatuhnya korban dalam pemboman di stasiun Metro, Moskow

Abdurakhmanova diduga adalah pembom yang menyerang stasiun metro Lubyanka hari Senin, menewaskan 20 orang, lapor Kommersant.

Pembom kedua belum diidentifikasi.

Abdurakhmanova berasal dari kawasan Khasavyurt, Dagestan, di perbatasan dengan Chechnya, kata polisi.

Ia diduga bertolak ke Moskow dengan bus dengan seorang rekan pembom bunuh diri lain dari Kizlyar, kota yang juga berada di dekat perbatasan Chechnya.

Hari Rabu lalu, 12 orang, sembilan di antaranya adalah polisi, tewas dalam dua pemboman bunuh diri di Kizlyar.

Di Moskow, berita bahwa penyerangan dilakukan oleh perempuan memicu spekulasi bahwa ada kelompok yang disebut "black widows" atau janda tragedi -wanita yang menikah atau memiliki kaitan dengan militan yang tewas dalam operasi pasukan Rusia di sejumlah tempat seperti Dagestan, Ingushetia dan Chechnya.

Kelompok janda ini terlibat dalam sejumlah serangan besar di Kaukasus utara dan di Moskow.

Peringatan melalui video

Para pejabat dinas keamanan federal (FSB) yang tidak disebut namanya mengatakan Magomedov adalah mitra Doku Umarov, pemimpin pemberontak Chechnya yang mengatakan ia memerintahkan serangan di Moskow.

Dalam pesan video yang dicantumkan dalam situs kelompok itu, Umarov memperingatkan Rusia untuk bersiap menghadapi serangan lebih lanjut.

Hari Kamis, Presiden Rusia Dmitry Medvedev terbang ke ibukota Dagestan Makhachkala untuk melakukan pertemuan darurat dengan para pemimpin Rusia untuk republik Kaukasus Utara.

"Kita harus menyiapkan senjata tajam dalam menumpas teroris; hancurkan mereka," kata Medvedev.

"Langkah memerangi terorisme harus diperluas. Operasi ini tidak hanya harus efektif tetapi keras, dan merupakan tindakan pencegahan. Kita harus menghukum mereka."

Serangan itu terjadi hampir satu tahun setelah Medvedev menetapkan berakhirnya operasi kontra terorisme Rusia di Chechnya, dalam upaya untuk "menormalkan situasi" setelah 15 tahun konflik dengan korban lebih dari 100.000 orang.

Tetapi kawasan itu tetap dilanda kekerasan dan dalam dua tahun terakhir kelompok militan Islamis meningkatkan serangan di Ingushetia dan Dagestan.

Umarov mengatakan serangan itu adalah tindakan balas dendam atas terbunuhnya warga sipil Chechnya dan Ingushetia oleh pasukan Rusia di dekat kota Arshty tanggal 11 Februari.

Kelompok pemberontak yang menganggap diri sebagai Emir dari Emirat Kaukasus, mengatakan serangan di Rusia akan terus berlanjut.