Strategi baru hentikan pembantaian Kongo

Kepala pemantau perdamaian PBB di Republik Demokratik Kongo menyatakan strategi baru dibutuhkan untuk mencegah meluasnya aksi pembantaian oleh kelompok bersenjata Tentara Perlawanan Tuhan (LRA).
Alan Doss mengatakan pada BBC setelah muncul bukti dari kerusuhan lima hari yang dilakukan kelompok pemberontak LRA Desember lalu dimana lebih dari 300 orang tewas.
Dia mengatakan peralatan udara dan intelejen yang lebih baik sangat dibutuhkan.
Menurut Doss LRA beroperasi dengan pasukan kecil namun lincah di area yang luas sehingga menyulitkan kerja PBB.
Pembantaian yang dilakukan adalah kasus terburuk yang pernah dilakukan kelompok itu, kata Human Rights Watch.
Doss menambahkan: "Pembunuhan tidak cuma terjadi di satu titik karena... LRA terus bergerak dalam unit kecil, namun tentu saja mengakibatkan korban parah."
"Senjata terbaik mereka adalah ketakutan dan mereka menciptakannya dengan taktik sangat brutal dan ganas yang kami saksikan di lokasi pembantaian dekat Tapili."
Pimpinan LRA mulanya mengklaim melakukan aksi kekerasan untuk menegakkan negara agama sesuai ajaran alkitab.
Namun kini kelompok ini menjelajah Sudan dan Republik Afrika Tengah, juga ke Republik Demokratik Kongo.
Dalam serangan terakhirnya, tentara pemberontak membunuhi warga desa dengan parang dan memerintahkan pennduduk lainnya membawa barang jarahan. Sekitar 250 warga diculik.
PBB mengatakan mendengar rumor bahwa sebuah serangan akan dilakukan pada Natal lalu, dan telah menambahkan pasukan di wilayah itu.
Namun pasukan PBB dikirim ke kota seperti Dungu dan Niangara sementara desa-desa terpencil tempat pembantaian terjadi tidak mendapat pengawalan.
Human Rights Watch, yang bekerja sama dengan organisasi lokal, telah mendapatkan bukti adanya 321 kematian namun kelompok lain menyatakan angka korban yang jauh lebih tinggi.
Saksi mata mengatakan bau jenazah terasa di wilayah itu selama berminggu-minggu.
Anak-anak adalah target yang disukai LRA.
Sedikitnya 80 anak sudah diculik, anak laki-laki untuk dijadikan pasukan sementara anak perempuan menjadi budak seks tentara LRA.









