Nasib warga Uighur yang dideportasi

Amerika Serikat mengatakan mereka sangat kawatir atas nasib dua puluh pencari suaka Uighur yang dideportasi dari Kamboja.
Pernyataan kedutaan Amerika di Phnom Penh itu muncul satu hari setelah warga Uighur -yang tiba di Kamboja dengan menggunakan jaringan di Cina- dipaksa masuk ke pesawat menuju Beijing.
Pemerintah Kamboja, yang memiliki hubungan dekat dengan Cina, tidak memberitahu badan pengungsi PBB dan tidak mengindahkan seruan untuk tidak melakukan deportasi.
Cina telah menghukum mati sejumlah warga Uighur yang dituduh terlibat dalam sengketa antar etnik bulan Juli lalu.
Badan pengungsi PBB mengecam langkah deportasi itu dengan mengatakan Kamboja melanggar undang-undang pengungsi internasional.
Keputusan itu dilakukan menyusul tekanan besar dari Cina yang menyebut pencari suaka itu penjahat.
Hukuman mati
Protes oleh warga Uighur di kota Urumqi, Xinjian, pecah menjadi tindak kekerasan Juli lalu dan menyebabkan 197 orang tewas.
Toko-toko dilempar dan kendaraan dibakar dan orang-orang yang lewat juga menjadi sasaran demonstran Uighur. Mayoritas penduduk di kota itu berasal dari kelompok Han.
Warga Han kemudian balas dendam dan polisi kesulitan untuk meredakan bentrokan.
Sebagian besar korban tewas dalam kerusuhan itu adalah warga han, menurut para pejabat, dan penduduk Han di Urumqi menuntut ditegakkannya keadilan.
Dua belas orang dihukum mati setelah kerusuhan itu.
Ketegangan antara warga Muslim Uighur dari Xinjiang dan Han semakin memuncak dalam tahun-tahun terakhir ini. Jutaan warga Han pindah dari kawasan itu dalam puluhan tahun terakhir.
Banyak warga Uighur menginginkan otonomi dan hak yang lebih atas kebudayaan dan agama mereka dibandingkan dari yang diijinkan Beijing.









