Hamas dan Israel: Pria anti-Muslim bunuh bocah berusia enam tahun di AS dilatari konflik Timur Tengah

Sumber gambar, CAIR/Handout via REUTERS
Seorang pria didakwa melakukan pembunuhan dan kejahatan kebencian setelah diduga menikam dua orang karena mereka beragama Islam.
Joseph Czuba, 71 tahun, dituduh membunuh bocah laki-laki berusia enam tahun dan melukai seorang perempuan, 32, di Plainfield, Illinois, Amerika Serikat (AS).
Mereka menjadi sasaran karena konflik yang terjadi saat ini antara kelompok Hamas dan Israel, kata Kantor Sheriff Will County.
Presiden AS Joe Biden mengatakan dia "muak" dengan serangan terhadap ibu dan putranya, yang merupakan warga AS keturunan Palestina.
"Tindakan kebencian yang mengerikan ini tidak memiliki tempat di Amerika, dan bertentangan dengan nilai-nilai fundamental kita: kebebasan dari rasa takut terhadap cara kita berdoa, apa yang kita yakini, dan siapa kita," kata Biden dalam sebuah pernyataan.
"Sebagai orang Amerika, kita harus bersatu dan menolak fobia terhadap Islam serta segala bentuk kefanatikan dan kebencian."
Czuba didakwa melakukan pembunuhan tingkat pertama, percobaan pembunuhan tingkat pertama, kejahatan kebencian, rasial, dan kejahatan penyerangan fisik.
Kantor Sheriff Will County mengatakan bahwa pada Sabtu (14/10) pagi, pihaknya menerima panggilan darurat dari seorang perempuan yang mengatakan dia diserang oleh pemilik tanah di Plainfield, dekat Chicago.
Perempuan itu mengatakan dia "berlari ke kamar mandi dan terus melawan penyerangnya".
Ketika petugas tiba di tempat kejadian, mereka menemukan perempuan dan anak laki-lakinya "terluka akibat tikaman di dada hingga sekujur tubuh".
Kedua korban dilarikan ke rumah sakit, namun anak laki-laki tersebut kemudian meninggal. Belakangan diketahui, anak tersebut ditusuk sebanyak 26 kali.
"Pisau yang digunakan dalam serangan ini adalah pisau militer bergerigi berukuran 31cm," kata kantor Sheriff.
Adapun perempuan yang terluka parah itu diperkirakan selamat dari serangan tersebut.
Czuba ditemukan "sedang duduk di dekat jalan masuk ke rumahnya," ungkap pernyataan itu.
Dia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan sebelum diinterogasi polisi.
"Tim penyelidik dapat menentukan bahwa kedua korban dalam serangan brutal ini menjadi sasaran tersangka karena mereka beragama Islam dan dilatari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah yang melibatkan Hamas dan Israel," jelas kepolisian setempat.
Baca juga:
Pihaknya belum merilis secara terbuka nama-nama korban.
Tetapi dalam konferensi pers pada Minggu (15/10), dari kantor Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR-Chicago) di Chicago, kelompok hak asasi manusia Amerika, menyebutkan nama anak laki-laki tersebut sebagai Wadea al-Fayoume, dan ibunya sebagai Hanaan Shahin.
Dikatakan Wadea lahir di AS, sedangkan ibunya - yang berasal dari Beitunia di Tepi Barat - datang ke AS sekitar 12 tahun silam.

Sumber gambar, Will County Sheriff's Office
Direktur eksekutif CAIR-Chicago, Ahmed Rehab mengatakan Wadea baru saja merayakan ulang tahunnya beberapa pekan lalu.
"Dia mencintai keluarganya, teman-temannya. Dia menyukai sepak bola, dia menyukai bola basket.
"Dan dia membayar harga atas atmosfer kebencian dan pembedaan serta merendahkan kemanusiaan yang sejujurnya saya pikir kita lihat di sini di AS sebagai akibat dari kepemimpinan yang tidak bertanggung jawab, pernyataan dan liputan yang tidak seimbang serta sepihak seperti yang kita lihat di media, dan para pejabat terkait.
"Dan kami memperingatkan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang kita lakukan pasca peristiwa 9/11," kata Rehab, seraya menambahkan bahwa saat itu anggota komunitas tertentu yang tidak bersalah telah menjadi korban serangan mematikan di AS pada 2001.
Lebih dari 1.400 orang tewas di Israel akhir pekan lalu ketika kelompok milisi Hamas melintasi perbatasan Jalur Gaza untuk menyerang warga sipil dan tentara.
Di Gaza, lebih dari 2.450 orang tewas akibat pemboman Israel, kata pihak berwenang Palestina, dan diperkirakan 1.000 orang masih belum ditemukan di bawah reruntuhan.











