Demonstrasi Prancis dalam foto: Tumpukan sampah, gas air mata, dan bangunan terbakar
Banyak orang turun ke jalanan di berbagai daerah di seluruh Prancis untuk memprotes undang-undang yang menaikkan usia pensiun dari 62 tahun menjadi 64 tahun.
Demonstrasi yang sebagian besar berlangsung damai sejak hari Kamis (23/03) itu diwarnai kekerasan di sejumlah kota, sehingga mendorong Presiden Emmanuel Macron untuk meminta Raja Inggris Charles III membatalkan kunjungan kenegaraan selama tiga hari yang rencananya dimulai pada hari Minggu (26/03).

Sumber gambar, Remon Haazen/ZUMA Press Wire/REX/Shutterstock

Sumber gambar, STEFANO RELLANDINI/Getty Images
Petugas sampah telah mogok kerja selama lebih dari dua minggu di beberapa kota. Di Paris, ribuan ton sampah yang tidak diangkut menumpuk di jalanan.

Sumber gambar, YVES HERMAN/Reuters

Sumber gambar, YVES HERMAN/REUTERS
Beberapa pengunjuk rasa membakar tumpukan sampah pada hari Kamis (23/03) – pembersihan dimulai pada Jumat dini hari.

Sumber gambar, YVES HERMAN/reuters

Sumber gambar, YVES HERMAN/Rueters

Sumber gambar, YVES HERMAN/reuters
Demonstrasi di Paris pusat berlangsung aman, namun beberapa kelompok memecahkan jendela toko, membakar sampah, dan bentrok dengan polisi anti huru-hara.

Sumber gambar, Lafargue Raphael/ABACA/REX/Shutterstock

Sumber gambar, Lafargue Raphael/ABACA/REX/Shutterstock

Sumber gambar, GONZALO FUENTES/Reuters

Sumber gambar, Samuel Boivin/NurPhoto/REX/Shutterstock

Sumber gambar, Lafargue Raphael/ABACA/REX/Shutterstock
Di kota Bordeaux, orang-orang berkumpul untuk menentang perubahan aturan pensiun dan berteriak: "Macron, mundur!"

Sumber gambar, Moritz Thibaud/ABACA/REX/Shutterstock

Sumber gambar, Fabien Pallueau/NurPhoto/REX/Shutterstock
Api melahap pintu depan balai kota Bordeaux pada Kamis sore.

Sumber gambar, Twitter Bookee0/via REUTERS
Wawancara televisi Presiden Macron pada malam Kamis tampaknya telah mendorong para pengunjuk rasa untuk bertindak. Macron menjabarkan reformasi yang hendak dilakukan pemerintah sebagai keharusan ekonomi, dan menambahkan ia siap untuk menerima bila popularitasnya turun akibat ini.
Pemerintahan Macron memutuskan pada hari Senin untuk memberlakukan reformasi, yang menaikkan usia pensiun dari 62 tahun ke 64 tahun serta memperpanjang kontribusi oleh pekerja menjadi 43 tahun.
Karena presiden dan PM menyadari mereka akan kesulitan meloloskan undang-undang ini di parlemen, mereka menggunakan kekuasaan khusus yang diberikan konstitusi untuk melewati pemilihan suara di parlemen.
"Saya mendengarkan Macron kemarin dan rasanya seperti ada yang meludahi wajah kami," kata Adèle, mahasiswi hukum berusia 19 tahun di Nanterre. "Untuk reformasi [undang-undang] pensiun ini, ada jalan lain dan jika dia tidak melakukannya, itu karena dia tidak mendengarkan suara rakyat. Jelas ada kekurangan demokrasi," katanya kepada BBC.
Semua foto memiliki hak cipta.









