Omicron dorong lonjakan kasus Covid di Afrika Selatan, 'antrean vaksinasi panjang', restoran tetap penuh dan tak ada kepanikan

Perempuan Afsel terima vaksinasi.

Sumber gambar, Getty Images

Varian virus corona baru Omicron telah menjadi dominan di Afrika Selatan dan mendorong lonjakan tajam infeksi baru, kata pejabat kesehatan di negara itu.

Sekitar 11.500 infeksi Covid baru tercatat dalam laporan harian terbaru, kenarik dari 8.500 kasus yang dikonfirmasi pada hari sebelumnya.

Sebagai perbandingan, jumlah infeksi harian rata-rata antara 200 dan 300 pada pertengahan November, kata seorang ilmuwan top Afrika Selatan kepada BBC.

Tetapi suasana keseharian di Afrika Selatan, negara pertama yang melaporkan varian virus corona Omicron, cukup tenang dan tidak terlihat kepanikan.

Salman Alfarisi, duta besar RI untuk Afrika Selatan, mengatakan bahwa temuan varian baru itu mendorong warga untuk mendapatkan vaksin.

"Warga di sini menanggapinya dengan hati-hati tapi tidak ada rush belanja kebutuhan sehari-hari, karena [status pandemi] tetap level satu [seperti sebelum penemuan Omicron]. Masih tetap tenang," ungkap Salman kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo,

"Saya juga melihat di beberapa pusat vaksinasi, antrean cukup panjang," imbuh Salman.

Ia mengatakan saat ini pemerintah menggalakkan vaksinasi, dan di sejumlah tempat vaksinasi menjadi satu kewajiban.

"Misalnya di beberapa universitas, mahasiswa, tenaga pengajar dan pegawai di kampus harus wajib melakukan vaksinasi. Beberapa perusahaan juga mewajibkan vaksinasi," kata Salman.

Baca juga:

Wartawan BBC Pumza Fihlani di kota terbesar di Afrika Selatan, Johannesburg, mengatakan bahwa restoran dan supermarket tetap penuh menjelang liburan Natal dan Tahun Baru. Warga banyak yang berbicara tentang varian baru - tetapi sejauh ini hampir tidak ada kepanikan dan, menurut para ilmuwan, memang seharusnya tidak ada.

Pemerintah Afrika Selatan tengah mengintensifkan pula booster atau pemberian vaksin dosis ketiga bagi tenaga kesehatan dan pendidik.

Sebelum penemuan Omicron, kasus harian di Afrika Selatan di kisaran ratusan. Namun setelah pemerintah melaporkan adanya varian baru, angka kasus naik menjadi ribuan per hari.

"Sejak pekan ini, memang kasusnya meningkat sangat tajam," kata Salman.

Tes PCR di Johannesburg

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga di Johannesburg menjalani tes PCR di bandar udara sebelum melalukan perjalanan.

"Ini mencengangkan sejumlah pihak dan kebetulan kenaikan kasus bersamaan waktunya dengan penemuan Omicron. Tapi apakah ini semua disebabkan oleh varian baru, kita harus menunggu hasil penelitian yang dilakukan pemerintah," katanya.

Ammaar De La Rey, yang bekerja di Pusat Promosi Perdagangan RI di Johannesburg, mengatakan saat ini Afrika Selatan masih dalam level satu.

"Level satu di sini paling rendah, bukan paling tinggi. Berarti restriction (pembatasan) tidak begitu banyak. Semua orang sudah kerja seperti biasa," kata Ammaar dalam keterangan kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, hari Rabu (01/12).

Level satu masih memungkinkan warga untuk melakukan perjalanan antarprovinsi.

Omicron

Sumber gambar, Getty Images

"Yang ditekankan di sini sekarang adalah vaksinasi. Semua orang diminta untuk divaksinasi secepat mungkin untuk mengurangi risiko infeksi yang fatal," kata Ammaar.

"Yang ditakuti adalah gelombang ke-4. Soalnya, jumlah kasus sudah mulai naik lagi," katanya.

Ammaar juga mengatakan warga sudah mulai khawatir tapi peraturan belum berubah. "Jadi, orang-orang masih masuk kantor seperti biasa," katanya.

Vaksinsasi di Afrika Selatan

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Setelah penemuan varian virus corona Omicron, terlihat antrean panjang warga untuk mendapatkan vaksin Covid-19.

Tak ada tanda-tanda bahaya

Omicron sekarang sudah terdeteksi di setidaknya 24 negara di seluruh dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mereka yang telah terinfeksi varian lain virus corona tampaknya tidak terlindung dari Omicron namun vaksin diyakini masih ampuh melindungi dari penyakit parah, menurut para ilmuwan WHO dan Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afrika Selatan (NICD).

"Sebelumnya, orang yang sudah pernah terinfeksi terlindungi dari varian Delta tetapi itu tampaknya tidak terjadi sekarang dengan Omicron," kata Anne von Gottberg, pakar mikrobiologi di NICD.

Gambaran lengkap di Afrika Selatan tidak akan kelihatan jelas sampai "orang-orang mengalami sakit yang begitu parah sehingga mereka harus ke rumah sakit" yang biasanya terjadi "tiga sampai empat pekan kemudian," kata Prof Salim Abdool Karim dari Gugus Tugas Afrika untuk Virus Corona.

"Namun informasi yang kami dapatkan dari lapangan ialah bahwa sebenarnya tidak ada tanda-tanda bahaya - kami tidak melihat perbedaan yang dramatis, apa yang kami saksikan adalah hal yang sudah biasa," katanya kepada program Newsday BBC.

Pada Rabu (01/12) media di Afrika Selatan memberitakan pemerintah pusat mendata semua rencana yang disiapkan pemerintah provinsi dalam mengantisipasi gelombang ke-4 pandemi Covid-19.

"Seluruh provinsi saat ini dalam proses memfinalkan rencana mereka dan semua rencana ini nantinya akan disatukan menjadi rencana nasional," ujar Sibongiseni Dhlomo, wakil menteri kesehatan, seperti dikutip surat kabar di Afrika Selatan.

Ia menjelaskan pihaknya mencermati situasi pada gelombang-gelombang terdahulu, untuk memastikan ada pelajaran yang bisa dipetik untuk merespons kemungkinan kemuculan gelombang baru.

Presiden Ramaphosa

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa masih menetapkan level satu, sama seperti sebelum penemuan varian Omicron.

Sejauh ini, kemunculan Omicron tidak menyebabkan kenaikan tajam angka kematian, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para pakar virus corona.

Baca juga:

Bahkan, hingga Rabu (01/12), belum ada laporan tentang kematian di Afrika Selatan yang disebabkan oleh varian Omicron.

Sebagian besar pasien yang terinfeksi Omicron mengalami sakit kepala, mual, pusing dan naiknya denyut jantung, menurut rumah-rumah sakit di Afrika Selatan.

Salah satu dokter pertama di Afrika Selatan yang mendeteksi Omicron, Angelique Coetzee, mengatakan, "Mencermati bahwa gejala yang diperlihatkan ringan, untuk saat ini tidak ada alasan untyuk panik. Kami tak menemukan pasien yang sakit parah [akibat terkena Omicron]."

WHO telah menyerukan agar negara-negara yang menerapkan larangan perjalanan dari dan ke Afrika Selatan untuk mencabut kebijakan tersebut.

Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan Asia, termasuk Indonesia menutup perjalanan dari dan ke Afrika Selatan begitu WHO mengonfirmasi penemuan Omicron.

Inggris juga mengetatkan protokol kesehatan dengan mewajibkan masker di transportasi publik.

Tadinya pemakaian masker ini bersifat anjuran.

Namun sekarang otoritas transportasi London mengatakan akan menjatuhkan denda £200 (sekitar Rp3,8 juta) jika warga menolak mengenakan masker di transportasi umum.