Pelajar Prancis mengaku berbohong soal guru yang kemudian dibunuh karena tunjukkan karikatur Nabi Muhammad

Sumber gambar, Getty Images
Seorang pelajar perempuan di Prancis mengakui menyebarkan klaim yang keliru soal guru yang kemudian dibunuh tahun lalu.
Guru bernama Samuel Paty itu Oktober tahun lalu jadi korban pemenggalan setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam pelajaran tentang kebebasan berbicara.
Pelajar perempuan berusia 13 tahun tersebut, yang namanya tidak untuk dipublikasikan, sebelumnya menyebar informasi bahwa Paty meminta para murid yang beragama Islam untuk keluar dari kelas.
Pengacara pelajar itu mengatakan, kliennya sekarang mengaku bahkan tidak berada di dalam kelas tersebut.
"Dia berbohong karena merasa terjebak setelah teman-teman sekelasnya meminta dia menjadi juru bicara," kata pengacara pelajar tersebut, Mbeko Tabula, kepada kantor berita AFP.
Cerita yang disebarkan pelajar itu membuat ayahnya mengajukan gugatan hukum dan melakukan kampanye di media sosial berdasarkan versi keterangan yang didapat dari anaknya.
Pelajar itu kini didakwa melakukan pencemaran nama baik, sementara ayahnya didakwa terlibat pembunuhan.
Tidak lama setelah Samuel Paty dibunuh, jaksa menyatakan menemukan hubungan sebab-akibat langsung antara hasutan di media sosial dan pelaku pembunuhan.
Ayah pelajar itu, yang oleh media Prancis disebut bernama Brahim C dan berumur 48 tahun, dituduh mengeluarkan "fatwa" terhadap guru itu.

Sumber gambar, Reuters
Jaksa bidang antiterorisme Prancis, Jean-François Ricard, menyebut Brahim bertukar sejumlah pesan teks dengan pembunuh Paty untuk melakukan kejahatannya.
Pelaku pemenggalan bernama Abdullakh Anzorov, 18 tahun, ditembak mati oleh kepolisian Prancis tak lama setelah pembunuhan itu terjadi.
Usai kejadian itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menganugerahi kehormatan tertinggi Légion d'honneur kepada keluarga guru tersebut.
Penggambaran wajah Nabi Muhammad secara luas dianggap tabu dalam Islam dan dianggap sangat ofensif oleh umat muslim.
Persoalan ini sangat sensitif di Prancis setelah majalah satire Charlie Hebdo menerbitkan karikatur Nabi Muhammad.
Dua belas orang di kantor majalah itu dibunuh oleh ekstremis Islam pada tahun 2015 setelah gambar-gambar itu diterbitkan.









