Jenazah di kontainer: Pemerintah Vietnam tawarkan pinjaman untuk pulangkan korban dari Inggris dalam bentuk mayat atau abu

Sumber gambar, Getty Images
Keluarga dari korban penyelundupan manusia yang ditemukan di kontainer berpendingin di Essex menerima kabar bahwa pemerintah Inggris atau pun pemerintah Vietnam tak akan membayar pemulangan jenazah anggota keluarga mereka.
Beberapa anggota keluarga yang masih dalam keadaan berduka ini menyatakan kepada BBC bahwa mereka telah didekati oleh pihak berwenang Vietnam dengan formulir pengembalian jenazah.
Dalam formulir itu mereka diberi pilihan untuk mengembalikan jenazah dengan meminjam uang dari pemerintah, atau membiayai sendiri pengembalian jenazah anggota keluarga mereka yang jadi korban.
BBC telah menghubungi Kedutaan Besar Vietnam di Inggris meminta komentar mereka.
Belum ada jenazah yang dipulangkan
Pihak berwenang di Inggris menemukan 39 jenazah warga Vietnam di dalam kontainer di kota Grays di Essex bulan lalu. Dua orang pengemudi truk sudah didakwa di pengadilan untuk pembunuhan, dan beberapa orang telah ditahan sehubungan dengan perkara ini.
Para korban telah berhasil dikenali oleh polisi sepuluh hari lalu, tapi tak ada dari jenazah itu yang sudah dikembalikan ke Vietnam.
Koroner di Inggris dan Wales harus memberi izin sebelum jenazah dipindahkan ke luar Inggris Raya.
Harian Guardian melaporkan, Huy Cuong, wakil ketua komite rakyat di Provinsi Ha Tinh - daearah asal 10 orang korban - menyatakan ketidakpastian mengenai pengembalian jenazah itu.
Cuong menyatakan pejabat di provinsinya telah menerima perintah dari kementrian luar negeri Vietnam untuk memberitahu anggota keluarga bahwa pemerintah Vietnam atau pun Inggris tak akan membiayai.
Katanya, pemerintah hanya menawarkan biaya untuk mengembalikan jenazah "dari bandara ke rumah".
Biaya berbeda untuk pemulangan jasad dan abu
Formulir persetujuan yang dilihat oleh BBC menyatakan: "Saya, atas nama keluarga, berjanji untuk membayar seluruh biaya terkait yang dikeluarkan oleh pihak berwenang untuk mengembalikan mereka dari Inggris".

Keluarga korban ditawarkan harga diskon sebesar 66 juta dong (sekitar Rp40 juta) untuk mengembalikan jenazah dan 44 juta dong (Rp26,7 juta) untuk mengembalikan abu mereka.
Sementara itu keluarga korban telah berutang sebesar £40.000 (sekitar Rp727 juta) untuk keperluan perjalanan anggota keluarga mereka ke Inggris - yang berakhir tragis itu.
Pham Ngoc Tuan, salah satu kakak dari korban mengatakan kepada wartawan BBC, Nga Pham: "Kami sudah meminjam uang banyak sekali. Kami sudah menjaminkan segala yang kami punya. Kami tak tahu apakah masih bisa meminjam uang lagi."
Kampanye membantu keluarga pulangkan jasad
"Kami diberitahu bahwa persoalannya sekarang adalah uang, dan sekalipun kami sudah meminjam banyak uang untuk mengirim mereka, kami tampaknya perlu meminjam uang lagi untuk mengembalikan mereka ke tanah air," kata Tien Pham, sepupu dari dua orang korban dalam tayangan langsung di Facebook.

Pham Van Thin, ayah dari salah seorang korban Pham Thi Tra My, seperti dilaporkan oleh Guardian, menyatakan adanya dua pilihan biaya, untuk jenazah atau untuk abu anggota keluarganya.
"Biaya ini diluar kemampuan keluarga kami untuk membayar," katanya. "Kami harus meminjam uang lagi dari bank sementara kami masih berutang."
"Tapi saya sudah menandatangani persetujuan untuk mengembalikan jenazah anak saya. Kami dalam kesulitan sekarang tapi pemerintah menawarkan pinjaman untuk membayar biaya pemulangan dan kami harus menggantinya 30 hari sesudah pemakaman. Pemerintah tak mengenakan bunga."
Sehubungan dengan peristiwa ini, kedutaan besar Vietnam di London menyatakan akan "berkordinasi erat dengan pihak berwenang terkait di Vietnam dan Inggris untuk mendukung keluarga korban untuk membawa pulang anggota keluarga mereka tercinta".
Mereka juga menyatakan "berduka cita sedalam-dalamnya," kepada keluarga korban.
Sementara itu di situs gofundme sudah dibuat kampanye daring pengumpulan dana untuk membantu keluarga untuk mengembalikan jenazah para korban ke Vietnam.










