You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Pilot maskapai Israel 'menolak menerbangkan para pengungsi Afrika'
Sejumlah pilot maskapai penerbangan nasional Israel El Al menolak untuk menerbangkan para pencari suaka Afrika yang dideportasi dari Israel, lapor Times of Israel. Mereka menyatakan tidak setuju pada ketentuan baru tentang imigrasi.
Seorang pilot dilaporkan menyatakan menolak untuk "membawa pengungsi terbang menuju kematiannya".
Situs berita tersebut menjelaskan, keputusan yang diumumkan di Facebook "oleh setidaknya tiga pilot maskapai El Al", itu "lebih merupakan aksi simbolik saja." Karena maskapai itu "tidak memiliki rute penerbangan langsung ke Rwanda atau Uganda, dan para migran yang dideportasi biasanya terbang dengan pesawat lain melalui Etiopia atau Jordan."
Hal ini terjadi menyusul diberlakukannya ketetapan baru trkait pendatang, yang lebih ketat di awal tahun.
Pemerintah Israel menerbitkan pemberitahuan bagi ribuan migran Afrika untuk meninggalkan negara tersebut atau menghadapi hukuman penjara.
Dikatakan para migran tersebut akan diberi uang sampai $3.500 atau Rp46 juta untuk meninggalkan negara tersebut dalam waktu 90 hari ke depan, dan akan diberi pilihan untuk pulang ke negara asal mereka atau negara ketiga.
Tapi jika mereka tidak pergi, pihak berwenang Israel mengancam akan memenjarakan mereka mulai April mendatang.
Times of Israel menyebutkan kampanye penolakan deportasi diorganisir oleh kelompok hak asasi manusia, Zazim, yang mengatakan bahwa Otoritas Penerbangan Sipil negara tersebut dan serikat pilot telah menerima lebih dari 7.500 tanda tangan "mendesak para pilot untuk tidak berpartisipasi dalam deportasi dan mengirim para pengungsi ke sebuah tempat yang membahayakan nyawa mereka".