You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Aung San Suu Kyi tunda kunjungannya ke Indonesia
Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, menunda kunjungannya ke Indonesia di tengah maraknya beberapa unjuk rasa yang mendukung umat Islam Rohingya di beberapa tempat.
Unjuk rasa pekan lalu di Jakarta dan Bandung mengecam pemerintah Myanmar yang dianggap melakukan kekerasan atas umat Rohingya di negara bagian Rakhine.
Selain itu beberapa pengunjuk rasa juga menuntut agar Hadiah Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepada Aung San Suu Kyi pada tahun 2012 lalu ditarik karena dia dianggap mendiamkan kekerasan atas warga Rohingya.
Juru bicara Kementrian Luar Negeri Myanmar, Kyaw Zay Ya, tidak menjelaskan alasan rinci dari penundaan tersebut.
"Kami berdiskusi dengan pihak Indonesia yang belum siap dan menunda kunjungan itu," katanya Kyaw Zay Ya kepada BBC Seksi Myanmar,
Akhir pekan lalu, Kepolisian Indonesia juga menangkap dua orang terduga kasus terorisme yang merencanakan pengeboman markas polisi, gedung DPR dan juga sejumlah kantor kedutaan besar negara asing di Indonesia, antara lain Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta.
Polisi mengatakan keduanya merupakan bagian dari pendukung kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.
Tidak diakui sebagai warga negara
Terdapat sekitar 176 pengungsi Rohingya di Medan, yang sedang menanti perjalanan untuk menuju sejumlah negara tujuan akhir, antara lain Amerika Serikat.
Pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai warga negaranya dan sekitar 30.000 orang Rohingya diperkirakan mengungsi ke luar negeri.
Kepala Pusat Pengungsi PBB di Bangladesh tenggara, John McKissick, menuduh Myanmar berusaha mengenyahkan kelompok minoritas Muslim Rohingya melalui pembersihan etnik.
Sebelumnya foto satelit yang diterima lembaga internasional, Human Rights Watch, memperihatkan ratusan struktur -yang diperkirakan rumah milik orang Rohingya-dihancurkan antara 10 hingga 18 November.
Pemerintah Myanmar melancarkan operasi militer besar di Rakhine bulan lalu setelah sembilan aparat polisi tewas dalam rangkaian serangan di pos-pos perbatasan di Maungdaw.
Beberapa pejabat pemerintah berpendapat kelompok militan Rohingya yang melakukan serangan tersebut, yang menurut para pegiat dibalas dengan penghukuman secara kolektif atas semua orang Rohingya.