Berebut potongan harga di Inggris

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Beberapa hari sebelum tanggal permulaan musim diskon barang-barang menjelang perayaan Natal, toko-toko besar di Inggris sudah mendahului pesta potongan harga.
Iklan tawaran potongan harga menghiasai halaman koran dan layar televisi selama hari-hari padahal musim diskon ini semestinya dimulai hari Jumat, 28 November.
Besaran diskon ada yang 20% untuk pakaian dan 10% untuk minyak wangi, tetapi ada variasi sedikit antara jaringan toko yang satu dan yang lainnya. Berjalan menuju kantor BBC, tanda diskon dapat dengan jelas dilihat di deretan toko pakaian, sepatu, elekronik dan perlengkapan lain.
Rasanya jarang sekali ada obral besar-besaran pada minggu-minggu bulan November. Biasanya toko-toko masih memasang harga penuh. Toh musim belum lama berganti dari panas menjadi gugur. Jadi permintaan akan baju dingin tinggi. Begitulah logika sederhananya.
Tapi tahun ini merupakan pengecualian. Musim gugur kali ini tidak terlalu dingin. Suhu rata-rata sedikit di atas 10 derajat atau paling bila turun, hanya sekitar 8-9 derajat Celsius.
Boxing Day

Sumber gambar, BBC Indonesia
Maknanya, konsumen tidak terlalu memerlukan kostum tebal atau berpakaian sampai berlapis-lapis. Bahkan ada hari-hari tertentu orang-orang mengenakan kaus saja ketika suhu tidak membuat tubuh menggigil. Ini pemandangan bulan November tahun 2014, peralihan musim gugur ke dingin.
Oleh sebab itu, kalangan industri memperkirakan pesta diskon hari Jumat terakhir bulan November ini dipastikan akan seru persaingan. Toko-toko ingin melepas stok dan berupaya mengimbangi penjualan yang selama ini lesu dengan memberikan potongan.
Pesta diskon Jumat terakhir bulan November di Inggris sebenarnya adalah praktik yang diimpor dari Amerika Serikat. Di sana dikenal dengan nama Black Friday.
Adapun di Inggris pesta diskon biasanya dimulai pada Boxing Day atau persis sehari setelah Natal. Beberapa jaringan toko sudah membuka pintu mulai pukul 05.00. Konsumen antre mengular di depan pintu toko mulai 04.00.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Di era internet dan bersamaan dengan masuknya ritel Amerika Serikat ke Inggris pesta diskon ala Amerika Serikat ditiru di Inggris. Jaringan toko pakaian, toko elektronik atau supermarket menyatakan akan meramaikan perang potongan harga.
Siapa yang tidak tergoda mengantre dan berdesak-desakan di toko bila harga komputer dibanting hingga 25%, atau mesin cuci yang dijual sangat murah? Baju dingin yang dipotong 50%?
Pertanyaannya, berapa persen konsumen yang berdesak-desakan itu yang sejatinya memerlukan barang yang mereka buru? Jangan-jangan mereka membeli hanya karena harganya miring, tidak benar-benar memerlukannya.









