Di balik mogok guru

Mogok kerja

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Pegawai sektor publik di bawah berbagai payung serikat secara serentak mogok kerja.
    • Penulis, Rohmatin Bonasir
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Pekan lalu surat dalam amplop putih dikirim dari sekolah untuk memberitahukan bahwa tiga kelas di sekolah dasar dekat rumah akan tutup.

Dua hari kemudian datang surat kedua yang merevisi bahwa seluruh kelas akan diliburkan pada Kamis (09/07), tidak hanya tiga kelas.

Alasannya, guru-guru dan asisten mengikuti mogok kerja nasional oleh pegawai sektor publik di Inggris dan semakin banyak serikat buruh yang memutuskan untuk mendukung aksi tersebut.

Jadi orang tua atau wali murid harus buru-buru mencari alternatif di mana anak akan dititipkan atau siapa yang mesti mengambil cuti kerja agar dapat menjaga anak.

Pengaturan ini menyangkut puluhan ribu keluarga bahkan mungkin lebih, sebab setidaknya terdapat 6.000 sekolah yang tutup di wilayah Inggris saja, belum termasuk Wales Irlandia Utara dan Skotlandia.

Bersepeda

Mogok tidak hanya dilakukan oleh guru. Ada pegawai pajak, pegawai imigrasi, petugas pemadam kebakaran, pegawai pemerintah daerah bahkan tenaga medis.

Yang mereka persoalkan adalah pembekuan kenaikan gaji, masalah pensiun dan pemotongan karyawan.

Pawai di London

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pegawai sektor publik menentang pemotongan anggaran dan pensiun.

Mungkin di Indonesia belum ada mogok kerja skala besar-besaran seperti ini.

Bayangkan ratusan ribu orang berhenti bekerja selama satu hari padahal pekerjaan mereka berhubungan dengan layanan umum. Dan bayangkan dampak negatifnya terutama terhadap perekonomian, atau pada skala tertentu terhadap keselamatan jiwa.

Tentu para ahli akan keluar dengan perkiraan mereka masing-masing, tetapi daripada menyoroti efek buruknya saya mengambil sisi positifnya.

Seorang teman yang bekerja di bank mengambil cuti untuk menjaga dua putranya. Bila selama ini teman tersebut selalu pulang larut malam dan tidak bisa bertemu anak-anak, pada hari mogok ini mereka bertiga bersepeda mengelilingi Box Hill, salah satu kawasan bersepeda terkenal di Surrey, Inggris tenggara.

Putri satu teman lagi belum pernah melihat gedung parlemen Westminster dan jam kondangnya, Big Ben di London. Pada hari mogok ini, sang ibu, seorang guru SD, turut dalam rombongan mengajak serta putrinya ke pusat kota.

Di sana mereka mengikuti pawai serikat buruh dan tentu bisa melihat House of Parliament.

Tentu di balik semua itu muncul rasa frustasi di kalangan peserta mogok sebab jumlah pemasukan sama selama sekitar empat tahun terakhir tetapi harga-harga telah meroket.