Di balik hilangnya pesawat Malaysia Airlines

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Liston P Siregar
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Ketika berita tentang hilangnya pesawat Malaysia Airlines muncul, sama seperti media-media lain, BBC langsung memberitakannya.
Kecelakaan transportasi -darat, laut, maupun udara- dengan kemungkinan korban 239 penumpang jelas berita besar.
Dan biasanya di benak para redaktur koordinator liputan adalah pengerahan 'pasukan khusus' untuk liputan lanjutan, seperti berita pengangkatan jenazah dari laut, duka keluarga korban, dan berbagai aspek berita lainnya.
Dalam kasus hilangnya pesawat Malaysia Airlines, kenyataannya tidak seperti itu karena pesawat masih belum ditemukan.
Bagaimanapun 'pasukan khusus' tetap diturunkan.
Liputan khusus

Sumber gambar, AP
BBC misalnya yang mengerahkan satu wartawannya dari Thailand untuk membantu wartawan yang bermarkas dari Malaysia.
Satu lagi wartawan BBC yang bermarkas di Jakarta dikirim ke Vietnam, yang ikut membantu pencarian pesawat, walaupun di pusat pencarian di Pulau Phu Quoc sudah ada wartawan dari BBC Seksi Vietnam.
Di Beijing, dikerahkan juga wartawan ke Hotel Lido yang menjadi tempat berkumpul keluarga korban, yang memilih untuk tetap berada di Beijing sambil mengikuti berita perkembangan pencarian pesawat.
Dengan peliputan yang meluas itu, maka praktis segala aspek pemberitaan tercakup.
Namun ketika tak banyak perkembangan di lapangan tentang upaya pencarian pesawat -sementara beberapa pihak maupun keluarga semakin tak sabar- muncul pula berita-berita yang tak sedap.
Saling tuding?

Sumber gambar, Reuters
Salah satunya adalah berita tentang <link type="page"><caption> pemerintah Cina yang</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/03/140311_malaysia_pesawat_cina.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> mendesak pemerintah Malaysia agar meningkatkan upaya pencairan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/03/140311_malaysia_pesawat_cina.shtml" platform="highweb"/></link> pesawat Malaysia Airlines yang hilang itu, yang membawa 150 warga Cina.
Kementrian Luar Negeri Cina bahkan sempat pula mengatakan bahwa informasi yang diberikan pemerintah Malaysia malah membingungkan sehingga sulit untuk mengetahui yang akurat.
Dibalas lagi oleh pemerintah Malaysia bahwa tidak ada informasi yang meragukan namun mereka memahami keinginan pemerintah Cina untuk mendapat kepastian tentang nasib warganya.
Pemerintah Cina kemudian menerbitkan tiga foto tentang puing-puing yang ditangkap satelit mereka, yang menurut Malaysia tidak terkait dengan pesawat yang hilang.
Namun TV pemerintah Cina memberitkan akan tetap melanjutkan pencarian puing-puing yang terlihat itu.
Saya tidak tahu apakah warga Inggris akan menanggapi berita-berita tersebut dengan sedikit mencibir: mbok sebaiknya kerja sama dibanding saling tuding.
Tapi sebagai warga Asia, terus terang tak enak juga rasanya membacanya.









